<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>rumahkaca</title>
	<atom:link href="http://catatanhujan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://catatanhujan.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Dec 2008 22:49:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='catatanhujan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/df80d6c6c7d1df2c8920625ac20fbc55?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>rumahkaca</title>
		<link>http://catatanhujan.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>For &#8220;Malin&#8221; with Love</title>
		<link>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/for-malin-with-love/</link>
		<comments>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/for-malin-with-love/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 22:35:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kapasmerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Surat dari Palmerah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanhujan.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[(Antara Semangkuk Bakso dan celana dalam merek Jaguar)
Seorang tukang bakso mengeluh,&#8221;Karena media memberitakan ada bakso yang direndam dengan formalin, pendapatan saya turun sangat drastis&#8221;, matanya berkaca-kaca suaranya bergetar oleh amarah. Biasanya Pak De, (demikian biasanya, kami, mahasiswa UBK menyebutnya) tak akan terlihat kuyu seperti itu. Beberapa hari ini, dia terlihat menderita. Pukul 4 sore, biasanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatanhujan.wordpress.com&blog=5690230&post=47&subd=catatanhujan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>(Antara Semangkuk Bakso dan celana dalam merek Jaguar)</em></p>
<p>Seorang tukang bakso mengeluh,&#8221;Karena media memberitakan ada bakso yang direndam dengan formalin, pendapatan saya turun sangat drastis&#8221;, matanya berkaca-kaca suaranya bergetar oleh amarah. Biasanya Pak De, (demikian biasanya, kami, mahasiswa UBK menyebutnya) tak akan terlihat kuyu seperti itu. Beberapa hari ini, dia terlihat menderita. Pukul 4 sore, biasanya kami tak akan melihatnya lagi di depan pagar kampus, sambil nongkrongi gerobak dorong, yang di bagian depan kacanya tertempel stiker, SBY-JK dalam pemilu lalu.<span id="more-47"></span></p>
<p>Jam sudah menunjuk pada angka yang senja. Pukul 6 sore! Dan baksonya belum habis. Dan Pak De terlihat semakin pusing, mengingat, beban bawaannya pulang semakin berat. Berat karena dia harus membawa kembali gerobak dengan berat yang nyaris sama dengan ketika dia membawa pergi gerobak dari rumah. Berat karena dia harus menutupi kerugian hari ini, kerugian berkilo-kilo daging yang tak habis. Berat karena besok dia terpaksa menjual bakso-bakso itu kembali, dengan konsekwensi akan sama dengan hari ini.</p>
<p>Cairan pengawet mayat dengan nama keren Formol &#8211; Methylene aldehyde- Paraforin, Morbicid &#8211; Oxomethane &#8211; Polyoxymethylene glycols, Methanal &#8211; Formoform Superlysoform, Formic aldehyde &#8211; Formalith-Tetraoxymethylene, Methyl oxide , Karsan &#8211; Trioxane, Oxymethylene &#8211; Methylene glycol itu memang tidak baik untuk kesehatan. Karena medis mencatat beberapa efek samping yang diakibatkan dari penggunaan zat kimia yang cukup kita sebut dengan formalin saja.</p>
<p>Serangkaian operasi pengamanan dan penyelamatan masyarakat pun digelar BPOM untuk mengejar dan melacak aliran penggunaannya. Mulai dari pabrik penyuplai, pabrik tahu, toko kelontong yang menjual ikan kaleng. pasar ikan, Supermarket, produk melamine, tukan tahu dan gerobak Pak De.</p>
<p>Namun agaknya kesulitan. Karena penggunaan formalin ternyata bukan cuma untuk gayaan-gayaan saja, formal-formalan, tapi memang ternyata sudah sangat akrab dan karib dengan kehidupan sehari-hari. Penggunaan formalin seperi penggunaan cabe, meskipun pedas, tapi diperlukan. Sebegitu susahnya penciuman dan upaya penyelesaian kasus pemakaian formalin secara berlebih, hingga akhirnya Majelis Ulama Indonesia (baca: yang punya republik ini) marah dan mengancam akan mengeluarkan fatwa haram untuk pemakaian formalin. Busyet!</p>
<p>Aksi keras, negara dan pemuka agama ini, tenyata tak sampai di situ. Tercatat sejumlah kerugian tak tertahankan diterima orang kecil, yang selama ini terpaksa bergantung pada kaum kapital penyuplai cairan maut ini. Tukang tahu jadi hanya bisa menjual beberapa potong saja sehari, nelayan tak bisa mendapat uag tambahan buat beli solar perahunya yang telah menjulang kelangit. Pak De tak bisa membawa pulang gerobak baksonya dengan kosong. Dan.. dan.. Kita harus bertanya dulu pada penjaga warung tegal bila ingin memesan seporsi makanan. &#8220;;Mba, pakai formalin ga?&#8221;</p>
<p>Media adalah pelengkap penderitaan orang seprti Pak De. Sejak di Koran dan Tipi semuanya berbicara mengenai formalin dan efeknya. Pengusaha (saya pinjam istilah ini, sebagai maksud orang yang berusaha) kecil semakin tertekan oleh pengusaha besar. Setelah isu kian santer, dan untuk mencega dan meyakinkan konsumen, pengusaha besr langsung melindungi produksiya dengan secarik kertas, &#8216;Sertifikat bebas Formalin&#8217;. Dan semua produsen tentunya tak bisa memiliki kertas bertuah itu. Hanya pengusaha tertentu yang bisa mendapatkannya. Dan kemudian, mereka muncul di tipi dan koran-koran sambil memperagakan, bagaimana sebuah produk di iklankan &#8220;saudara-saudara, pakailah bakso buatan kami, So Good, Very Good dan bebas formalin,&#8221;</p>
<p>Orang seperti Pak De hanya bisa mengelus dada. Jangankan untuk nongol di tipi dan dan koran sambil menjajakan baksonya yang semangkok cuma Rp 4000 itu, untuk membeli secarik kertas yang dikeluarkan BPOM saja dia tak bisa. Apalagio bercuap-cuap di depan tivi, &#8220;bakso Pak De, Selain bebas Formalin,juga Gede-gede,&#8221;</p>
<p>Dan setelah kisah formalin ini laris manis di media, maka bak film cerita Lord Of The Ring, kisah memilukan ini pun di buat bersambung. Seperti drama sekuel dari pemboman di Poso. Media bukan saja &#8216;menelanjangi&#8217; para produsen yang menggunakan formalin dalam produksnya. Tetapi juga mengupas tuntas proses produksi.</p>
<p>Berang? Tentu saja. Dan itulah pada akhirnya memaksa para nelayan mogok melaut. Penjual bakso berduyun-duyuk ke Trans Tv untuk meminta klarifikasi atas pemuatan sebuah tayangan, dan, dan masih dari pedagang bakso juga, secara berjamaah mereka membagi-bagikan baksonya secara gratis dan suwon ke kantor PKB untuk memohon perlindungan.</p>
<p>Walah dalah, ini gejala apa? Bukankah sejak dulu pemakaian formalin telah diketahui? dan sudah dituntaskan? Atau malah, jangan-jangan sebenarnya tidak tuntas? Dan hanya dibuat-buat agar terlihat seperti tuntas. Seperti kasus Lia Eden, Penembakan tiga gadis katolik di Poso, dan rekonsiliasi Aceh serta penembakan di Atambua?</p>
<p>Kenapa masalah yang sudah lama diketahui harus kembali terjadi, dan membawa korban yang semakin banyak? Seharusnya penyakit itu bila diberi obat akan pulih sehingga pada akhirnya akan menyerupai sesuatu yang tak pernah sakit. Atau jangan-jangan, orang Indonesia inimemang pengikut aliran teori kekekalan masalah? yang mengatakan Bahwa masalah tak pernah bisa habis, hanya saja akan berpindah ke bentuk yang lain.</p>
<p>Ini seperi kotak Pandora, yang ternyata selama ini ditutup-tutupi. Dan ketika terbuka, maka akan terlihatlah segala kebusukan, ya, pemerintah, ya konglomerat, ya penguasa ya pengusaha. Dan yang menjadi korban dari penipuan sejarah yang telah dilakukan mereka adalah orang kecil. Yang kan terus menjual baksonya dengan ketakutan, menangkap ikan dengan kekhawatiran, pergi ke sekolah enggan akibat isu sara, pergi ke pasar takut ada bom.</p>
<p>Dan setelah banjir yang datang bertubi-tubi di awal januari, mobil jaguar pun berjatuhan dari langit, jatuh dan menimpa pejabat publik. Weleh, &#8220;Pak De. Pak De mau jaguar kah? Di Istana ada beberapa yang nagkring. Sama seperti Pak De, yang nangkring sambil menunggui Baksonya abis.&#8221;</p>
<p>Palmerah, 16/01/06</p>
<p>Djenar_saja</p>
<p>(Mahasiswa UBK, Penikmat Bakso Pak De)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatanhujan.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatanhujan.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatanhujan.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatanhujan.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatanhujan.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatanhujan.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatanhujan.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatanhujan.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatanhujan.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatanhujan.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatanhujan.wordpress.com&blog=5690230&post=47&subd=catatanhujan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/for-malin-with-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2dd1c47fe640877c2a3bd28b2ca538af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kapasmerah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasionalisme Zico, Nasionalisme-Nasi Bungkus</title>
		<link>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/nasionalisme-zico-nasionalisme-nasi-bungkus/</link>
		<comments>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/nasionalisme-zico-nasionalisme-nasi-bungkus/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 19:03:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kapasmerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Surat dari Palmerah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanhujan.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Ketika penjaga gawang Brazil yang main di Ac Milan Italia, Dida dipaksa Keiji Tamada mengambil bola dari dalam gawangnya, semakin meyakinkan saya bahwa Brazil memang tidak secemerlang performanya ketika melewati babakpenyisihan Piala Dunia (PD) 2006.
Apalagi, ketika sebelum pertandingan antara Brazil lawan Jepang sempat terjadi adu komentar a la komentator kelas anak-kos-an yang tentunya bukan sekelas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatanhujan.wordpress.com&blog=5690230&post=39&subd=catatanhujan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ketika penjaga gawang Brazil yang main di Ac Milan Italia, Dida dipaksa Keiji Tamada mengambil bola dari dalam gawangnya, semakin meyakinkan saya bahwa Brazil memang tidak secemerlang performanya ketika melewati babakpenyisihan Piala Dunia (PD) 2006.<span id="more-39"></span></p>
<p>Apalagi, ketika sebelum pertandingan antara Brazil lawan Jepang sempat terjadi adu komentar a la komentator kelas anak-kos-an yang tentunya bukan sekelas Bung Rayana jakasurya. Bahwa dalam permainan kali ini, Jepang akan dikotakkan Brazil dengan hasil bersih tanpa gol yang dihasilkan negeri Samurai Biru.</p>
<p>Tentunya keberhasilan Tamada memperdaya Dida tidak dengan mudah terjadi begitu saja. Kutak-kutik, dan segala macam jenis trik ditampilkan anak-anak Jepang. Tak jarang pula Dida dipaksa membanting-banting tubuhnya untuk menepis bola yang dimuntahkan nakata Cs tersebut.</p>
<p>Hingga pada akhirnya, tembakan keras skuad Jepang berhail membungkam jawara bertahan Brazil dengan angka 1-0 untuk Jepang. Memimpin Jepang untuk sementara. Ronaldinho cs seolah terpukul semangat tempurnya. Dan bagi fanz timnas Brazil, seakan gol itu cuma kebetulan belaka. Dan parahnya, ada yang berkomentar, “terang saja, lha wong pelatih Jepang, Brazil juga,”</p>
<p>Ketika Jepang memimpin sementara, saya lalu mencoba-coba ingat letak kelebihan Jepang dan letak kelemahan Brazil. Tentunya sebagai seorang penggila olah raga terpopuler di dunia ini, yang negaranya tak pernah masuk ke kancah momen bergengsi itu, saya tidak memihak siapapun. Lha wong, dalamkepala saya, saya cumamenoton dan diperbolehkan bebas berkomentar dan sedikit berteriak histeris tentunya.</p>
<p>Dan, asumsi saya, sampai pada Jepang memimpin satu gol, Brazil cuma kurang beruntung. Sementara Jepang, lebih dikarenakan keberuntungan timnya yang dibesut oleh pemain legendaris Artur Antunes Coimbra atau cukup dkenal dengan Zico saja.</p>
<p>Zico adalah legenda di masanya. Di piala dunia tahun 1978, 1982 dan 1986 dia adalah macan Brazil yang ditakuti penjaga gawang manapun. Ketika muda, namanya dielukan. Bahkan sampai saat ini, pengagumnya masih berdecakkagum bilamengingat ketangkasanya saat mendrible bola dan melesakkannya ke gawang lawan. Zico!</p>
<p>Dan pagi dini hari tadi, Zico kembali memperlihatkan kepiawaianya. Tidak sebagai seorang pemain. Tapi seorang pelatih. Seorang pelatih dari sebuah tim yang telah menundukkan untuk sementara, negaranya sendiri!</p>
<p>Dan Brazil pantas bertepuk tangan untuk si tua Zico. Tak ada alasan bagi pengemar Timnas Brazil untuk menghujat dengan mengatakan bahwa, Jepang memimpin karena kebetulan saja.</p>
<p>Lihatlah, di sana luar lapangan ada Zico yang tampil dengan semua perhitungan untuk menjinakkan tempat kelaiharannya, sepak bola yang lahir dari tradisi pantai Copacabana itu.</p>
<p>Benar bahwa dugaan saya pun melesat pula. Saya menduga bahwa Jepang akan dipulangkan dengan keadaan bulat, tanpa diberi sebuah gol pun oleh Brazil.  Tapi Zico, saya baru ingat bahwa pemain yang sampai hari ini masih berkewarganegaran Brazil ini juga punya pekerjaan. Punya profesi. Dan untuk profesinyaitu dia dibayar. dan oleh bayarannya itulah, akhirnya gawang Dida bergetar oleh tembakan Tamada.</p>
<p>Benar, dalam hal ini, nasionalisme itu tak bisa ditukar dengan nasi bungkus. Nasionalisme itu tidak ada urusan dengan apa yang bisa dimakan oleh seseorang.</p>
<p>Di PD 1986, dimana terakhir kalinya Zico membawa Brazil sampai ke perempat final melawan Perancis, Zico masih seorang bintang (sampai hari ini pun, di mata pengagumnya dia masih seorang bintang). Segudang penghargaan diterimanya kala itu. dia bermain dengan sangat baik.</p>
<p>Dan saat ini ketika dia menjadi seorang pelatih. Dia pun menjalankan tugasnya dengan baik. Menjadi seorang pelatih. Dan dalam menjalankan tugasnya itu dia tak bisa berpikiran macam-macam yang bisa membuyarkan konsentrasinya terhadap pekerjaan. Zico dibayar untuk mengantarkan jepang ke babak final PD 2006 di Jerman!</p>
<p>Dia mencoba setia terhadap profesinya yang sekarang. Meskipun itu akhirnya mempertemukan tim asuhannya dengan tim dari tempat asalnya.</p>
<p>Pada masa renaisance, Italia (dahulu Roma) membayar tentara-tentara yang didatangkan dari negara-negara kuat yang berpotensi menjadi musuhnya. Semua tentara bayaran itu diperlakukan sama. Tak ada yang istimewa. Bahkan tentara lokal cendrung lebih tak terperhatikan taraf hidupnya.</p>
<p>Lantas ketika suatu hari Roma harus bertemu muka dengan lawan tangguh yangtelah mengirimkan tentara-tentara terbaiknya ke Roma, bagaimana sikap tindakan tentara bayaran itu? Tentara bayaran itu harus bertempur di jalan Roma. Mereka berperang bukan atas nama kebangsaan. Mereka berperang atas nama pekerjaan.</p>
<p>Nasionalisme is nasionalisme, dan pekerjaan tetap untuk menopang kehidupan!</p>
<p>Meskipun pada akhirnya Jepang harus padam, terhenti dan dipulangkan, dengan angka cukup telak 1-4, namun saya tetap memberikan aplaus untuk duel mereka. Duel dari dua negara yang mewakili negara saya. Saya suka Jepang karena sama-sama Asia. Saya suka Brazil karena sesama negara yang terlilit kemiskinan dan segunung hutang.</p>
<p>Dari Zico saya belajar, bahwa nasionalisme itu tidak mengajarkan menjadi sempit dan picik!. Mengutip Pak Karno, : “Nasionalisme itu bukan seperti Hitler yang Deucthland Ubber Alles!”.</p>
<p>Tabik<br />
Haidar al-Mustafa</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatanhujan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatanhujan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatanhujan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatanhujan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatanhujan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatanhujan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatanhujan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatanhujan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatanhujan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatanhujan.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatanhujan.wordpress.com&blog=5690230&post=39&subd=catatanhujan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/nasionalisme-zico-nasionalisme-nasi-bungkus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2dd1c47fe640877c2a3bd28b2ca538af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kapasmerah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Real War Episode</title>
		<link>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/the-real-war-episode/</link>
		<comments>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/the-real-war-episode/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 18:05:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kapasmerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Surat dari Palmerah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/the-real-war-episode/</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya hari itu tiba juga, hari dimana malapetaka bagi seluruh unggas di Jakarta. Walaupun belum sepenuhnya operasi itu berhasil menyentuh sudut kota, tapi goncangan yang diterima beberapa wilayah di ibukota itu terasa hebat juga. 

Kejadian luar biasa ini memang telah menyirep perhatian seluruh rakyat Indonesia, dari Medan Sampai Merauke. Di Jakarta, khusunya, sebagai wilayah terbesar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatanhujan.wordpress.com&blog=5690230&post=36&subd=catatanhujan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Akhirnya hari itu tiba juga, hari dimana malapetaka bagi seluruh unggas di Jakarta. Walaupun belum sepenuhnya operasi itu berhasil menyentuh sudut kota, tapi goncangan yang diterima beberapa wilayah di ibukota itu terasa hebat juga. <span id="more-36"></span><br />
<span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><br />
Kejadian luar biasa ini memang telah menyirep perhatian seluruh rakyat Indonesia, dari Medan Sampai Merauke. Di Jakarta, khusunya, sebagai wilayah terbesar penyebaran endemic nomor wahid di Indonesia.Rumah sakit Sulianti Suroso kebagian orderan penanganan virus mematikan ini. Lantas bak monyet kebakaran janggut, media lalu berlomba menyoroti kasus flu burung. Membuat profil si pasien yang tewas, memajang fotonya di halaman depan dan membuat inzert peta rumah si korban. Pokoknya sampai sedetil mungkinlah, agar beritanya menarik dan oplahnya naik.</p>
<p>Dalam sehari rumah orang sakit dibanjiri oleh pewarta yang haus berita.</p>
<p>Pada 22 Februari lalu, resmilah ultimatum orang nomor satu se DKI itu terhadap terror flu burung. Dengan ancaman yang tentunya bukan main-main, Bang Yos-demikian media menyebutnya- akan mengusir bagi siapa saja yang tak mau dan rela menyerahkan unggas peliharaannya kepada tim kesehatan hewan yang akan memeriksa. Semua jenis unggas tentunya, ya, ayam, ya itik, ya angsa, ya dan burung. Tapi bukan ‘burung’ yang itu kok. :p</p>
<p>Walhasil dari proyek perang terhadap flu burung di 55 Kelurahan di Jakarta itu, dana yang digelontorkan untuk mengganti rugi unggas peliharaan yang dimusnahkan memakan biaya yang gila banyaknya… cukup membangun rumah untuk para gembel di ibukota, membangun rumah produksi bagi para penganggur, membuat sekolah rakyat… (bujruk, 600 miliar cing!). dan bagi yang unggasnya dimusnahkan diganti dengan Rp 10 ribu perak. Luar biasa… ini baru Kejadian Luar Biasa.</p>
<p>Lantas bagaimana masyarakat yang menilai kebijakan bang Yos itu? Walah dalah, nda tau saya. Macam-macam saja yang dilontarkan mereka, pemelihara unggas yang ternyata, di dominasi oleh orang “have not” alias miskin. Ya bilang kelewatanlah, pakai usir-usiran segala. Ya bilang pasrahlah walaupun cuma diganti sepuluh ribu perak. Halah, ntahlah.</p>
<p>Tapi yang jelas untuk urusan usir-usiran begini, Bu Nursjahbani Katjasungkana anggota komisi III DPR tidak sepakat. Nah, menurut orang yang getol ngomongin Hak Azaasi Manusia ini, pengusiran itu tidak bijaksana karena tanpa negosiasi dulu. Ibu dari F-PKB ini juga bilang, kalau dia curiga dengan virus flu burung yang lebih bia dianggap sebagai suatu masalah yang dibesar-besarkan saja. (sumber:KCM)</p>
<p>Waduh, kalau sudah begini, bagaimana dong Bang Yos? Njilimet banget ya untuk urusan satu ini. (Saya mulai curiga, kalau urusan flu burung aja orang pada pusing, apalagi urusin NKRI ini). Padahal itu yang namanya fenyakit flu furung tidak fisa komfromi dan negofiafi. Dan sementara Hak Azasi juga butuh dijunjung tinggi.</p>
<p>Tapi menurut saya, ini soal burung, eh maaf. Soal flu burungnya. Halah. Flunya burung maksud saya. Kok nda bisa diberesin dengan aman dan tidak menyakitkan orang lain? Apa memang begitu skema kerjanya? Dimana selalu ada yang berkorban dan yang dikorbankan untuk kepetingan seluruh umat? Apa tidak ada cara lain?</p>
<p>Alkisah di sebuah tempat di pelosok Jakarta yang miniatur sebuah mall ini, seorang anak memelihara seekor burung. Bagi semua orang burung itu memang tak ada harganya, (tapi bagi Bang Yos tentu ada. Rp 10 Ribu harganya). Anak itu sangat cinta pada burungnya itu. No body knows perihal hubungan si anak dengan burungnya.</p>
<p>Pada suatu hari burungnya diminta oleh petugas yang didatangkan khusus untuk membersihkan Jakarta dari penyakit bernama H5N1. Si anak ini miskin. Ketika disodori uang gobanan dia mau menerima. Tapi untuk melepaskan burungnya dia tidak mau. Lha? Terang saja, burungnya itu, maksud saya burungnya itu adalah satu-satunya teman yang dapat membuat dia bahagia. Membuat dia lupa pada kenyataan bahwa dia itu miskin dan ngga mau ngerti duit gobanan. Yang ada di kepalanya Cuma burungku sayang.</p>
<p>Tapi ketika dia akhirnya diminta menyerahkan sang burung yang konon kabarnya terinfeksi avian Influenza, dia bingung. Dengan sopan dia tolak uang goban itu. Tapi tidak semudah itu ternyata. Kesulitan si anak justru baru dimulai. Dan mulut api petaka sudah menunggu si burung di luar sana. Si anak pun kehilangan burung kesayangannya. Dia stress dan akhirnya… akhirnya lahirlah ketakutan-ketakutan saya…<br />
Bisa jadi si anak bunuh diri karena tak sanggup menahan sedih.<br />
Bisa jadi si anak menjadi penjahat karena kehilangan kasih sayang sang burung.<br />
Bisa jadi si anak mendatangi rumah Bang Yos dan mencuri seekor burung dari halaman Bang Yos.<br />
Bisa jadi si anak jadi bego dan malas menghadapi masa depannya.<br />
Bisa jadi.. bisa-bisa saya sajalah, untuk mengatakan, bahwa “final solution” atas unggas itu bukan jalan tengah.</p>
<p>Lha? Lalu jalan tengah itu apa dan mana? Iya, iya saya sedang bertanya. Ini pertanyaan saya. Pertanyaan yang terus ada di pikiran kita yang mau serius mengkulik-kulik fenomena alam ini tanpa ada tedeng aling-aling dan keingintahuan yang sarat kepentingan.</p>
<p>Sampai hari ini, perang terhadap flu burung yang berarti perang terhadap burung itu masih terus dikorbankan. Entah berapa nyawa manusia lagi yang melayang. Dan entah berapa nyawa unggas pula yang akan melayang.</p>
<p>Yah, kita tunggu sajalah, sampai ada yang menawarkan jalan tengah.</p>
<p>Djenar_saja</p>
<p>(penikmat ayam goreng ala centucky)<br />
</span>Beberapa titik yang diidentifikasi sebagai pusat penyebaran varian virus Avian Influenza itu disapu bersih oleh tim khusus yang didatangngkan Gubernur Sutiyoso dengan budget yang tentunya tidak murah. Tapi tidak lebih mahal dari ganti rugi yang diberikan Pemprov kepada si Otong yang harus kehilanga perkututnya yang telah dirawat Otong selama dua tahun.</p>
<p class="MsoNormal">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatanhujan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatanhujan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatanhujan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatanhujan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatanhujan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatanhujan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatanhujan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatanhujan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatanhujan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatanhujan.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatanhujan.wordpress.com&blog=5690230&post=36&subd=catatanhujan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/the-real-war-episode/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2dd1c47fe640877c2a3bd28b2ca538af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kapasmerah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jakarta: Sebuah Perspektif dari Seorang Anak Desa</title>
		<link>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/jakarta-sebuah-perspektif-dari-seorang-anak-desa/</link>
		<comments>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/jakarta-sebuah-perspektif-dari-seorang-anak-desa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 17:48:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kapasmerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Surat dari Palmerah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/jakarta-sebuah-perspektif-dari-seorang-anak-desa/</guid>
		<description><![CDATA[(Mengutip Frasa Tukul Arwana: Ndeso!)
Si Bambang tergoda untuk datang ke Jakarta. Kenapa? Terang saja, di kampungnya dia tak bisa kerja.
Si Zackaria jauh-jauh dari tanah Papua, datang ke Jakarta. Alasannya, di Tanah Papua tak ada sekolah.
Si Ucok nyebrang lautan tiga hari dua malam dengan kapal laut ke tanah Batavia. Katanya, “Aku mau nonton tuenti-wan (21)”. Sebab [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatanhujan.wordpress.com&blog=5690230&post=31&subd=catatanhujan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>(Mengutip Frasa Tukul Arwana: Ndeso!)</p>
<p>Si Bambang tergoda untuk datang ke Jakarta. Kenapa? Terang saja, di kampungnya dia tak bisa kerja.<span id="more-31"></span></p>
<p>Si Zackaria jauh-jauh dari tanah Papua, datang ke Jakarta. Alasannya, di Tanah Papua tak ada sekolah.</p>
<p>Si Ucok nyebrang lautan tiga hari dua malam dengan kapal laut ke tanah Batavia. Katanya, “Aku mau nonton tuenti-wan (21)”. Sebab di kampungnya tak ada gedung bioskop.</p>
<p>Si Cut hobbinya shopping. Di tempatnya tak ada mal. Maka diputuskannya untuk menguras tabungan, datang ke Jakarta, khusus untuk belanja.</p>
<p>Jakarta menjanjikan semuanya. Bahkan mimpi anak-anak juga ditawarkannya. Jutaan orang datang ke Jakarta bukan tanpa alasan dan tujuan. Jutaan orang datang ke Jakarta karena di sana peluang lebih besar. Kenapa? Jangan Tanya kenapa deh.</p>
<p>Sebegitu lamanya keadaan yang terkondisikan ini terjadi. Bahkan, Jayakarta, Batavia ataupun Jakarta hari ini, sudah didatangi imigran dari berbagai pulau di nusa antara. Tak cuma dari archipelagos Sabang sampai Merauke, Jakarta sudah menjadi pusat perkembangan peradaban bagi beberapa negara sejak ratusan tahun lalu.</p>
<p>Dan hari ini, tidak mudah untuk mengatakan alasan kedatangan orang-orang ke propinsi yang luasnya tak lebih besar dari Pulau Batam ini.</p>
<p>Benarlah, bahwa kenyataan hari ini, dimana politik sentralisir yang diwariskan Belanda menjadikan Jakarta sebagai tempat yang vital. Apa pun ada di tanah ini. Mulai dari pabrik yang besar, sekolah paling mutakhir, mal paling mewah sampai bioskop paling nyaman, ADA.</p>
<p>Siapa yang tak tergoda untuk datang ke Jakarta? Mulai pemimpi dari desa, sampai kepada pemburu kepuasan duniawi, semua numpleg di sana. Akibatnya, pemerintah daerah Jakarta menjadi kelimpungan sendiri.</p>
<p>Hal tersebut bukanlah penyakit yang tak bisa dihindari. Membludaknya arus kedatangan imigran dari daerah setiap tahun (fenomena setelah lebaran) adalah bukti dari Jakarta adalah magnet bagi daerah di sekitarnya.</p>
<p>Begitulah, setelah Jakarta dijejali pendatang, kemudian daerah menjadi lengang. Tanah-tanah kosong tak digarap, sementara di Jakarta orang-orang lebih memilih tinggal di kolong jembatan. Ini dia Fenomena Pembangunan!</p>
<p>Dimana yang dibangun hanyalah sekelompok daerah, yang akan terus menjadi magnet bagi kedatangan kaum urban yang tak dapat dibendung.</p>
<p>Kesempatan yang tak dimiliki daerah untuk membangun (apalagi otonomi daerah ternyata hanyalah kampanye palsu atas apa yang dinamakan pemerataan), membuat daerah di luar Jakarta menjadi “tetap terasing”. Sementara Jakarta sudah maju sepuluh langkah, di daerah masih tertinggal duapuluh langkah. Wacana daerah memiliki kekuasaan yang otonom pun tinggal jadi wacana. Semuanya mandek ketika isu pemerataan yang diniatkan perumus kebijakan otonomi daerah, tidak terealisasi. Tepatnya bukan karena tak bisa terealisasi, tapi tak mau merealisasikannya.</p>
<p>Lantas apa yang bisa diharapkan warga yang tingggal di daerah? Ya…. Kabur ke Jakarta! Karena di Jakarta, semuanya punya peluang untuk mewujudkan mimpi-mimpinya yang tak bisa dibuktikan di daerah.</p>
<p>Pfuh… nasiblah, kalau sesampai di Jakarta ini, ternyata semutan kaum urban tersebut terpaksa bersaing. Dan akibatnya? Yang repot tentu saja pemerintah daerah Jakarta!</p>
<p>Setiap tahun, angka kriminalitas di Jakarta bertambah. Hal ini dipacu karena terbatasnya lapangan kerja yang tersedia. Selain itu rata-rata pendatang yang digelapkan oleh mimpi semu tentang Kota Jakarta, memiliki skil yang terbatas. Malu pulang, dan tak memiliki aset di kampung (karena tanahnya sudah dijual, atau mungkin kebonya yang dijual) memaksa pendatang yang tak kebagian kesempatan memilih hidup di jalan kegelapan (hehe, kayak ksatria baja hitam aja yah?).</p>
<p>Bukan cuma angka kriminalitas yang meningkat, tetapi juga kemiskinan! Dan ini sangat kontras. Tak perlu membandingkan dengan daerah, untuk melihat kasus kemiskinan di sini. Karena di samping apartemen yang megah, pasti ada gubug reot yang nyaris tumbang. Perhatikan deh.</p>
<p>Yang paling mencengankan dari itu semua adalah, Fenomena Lebaran dan Imlekan. Hehehe.<br />
Terus terang ini sebuah kemaluan yang cukup membuat muka merah. Bayangkan saja, bagaimana mungkin, Jakarta yang metropol ini ternyata memiliki cukup banyak stok gembel? Peminta-minta? Pengamen? Orang gila yang tak tertampung lagi, dan berkeliaran bebas? (kemana dinas sosial sembunyi?).</p>
<p>Habiskah, penderitaan kota Jakarta karena menjadi hujatan Rakyat Indonesia yang tak dapat kesempatan? Belum. Belum saudara-saudaraku!</p>
<p>Setelah kerontang cukup lama di tanah yang dijanjikan ini, musim hujan pun turun. Bila biasanya hujan selama dua jam cukup membuat macet jalanan, kali ini, hujan turun berhari-hari dengan curah yang tak begitu tinggi.</p>
<p>Akibatnya, air naik, meluap, banjir…. Karam. Jakarta jadi empang! Jangan tanya ini salah siapa. Sebab hujan turun memang sudah hukum alam. Siklus yang turun memang berlaku sejak alam diciptakan. Hujan selama enam bulan dan panas selama enam bulan memang terjadwal. (kalau tidak percaya tanya pada BMG aja deh).</p>
<p>Artinya, hujan yang turun bukan tidak bisa diprediksi. Dan ketika semua sudah jelas diprediksi tentu saja bisa diambil langkah antisipatif. Tapi begitu, Ibukota negara RI yang telah menjanjikan semuanya ini gagal total. Dan setelah banjir mengaramkan hampir semua wilayah, kemudian, dengan gampang semua orang mengatakan: “ini bencana”.</p>
<p>Ampuun!! Dimana logikanya? Dimana logikanya saudara-saudaraku?</p>
<p>Banjir bukan bencana. Digaris bawahi kata-kataku ini. Banjir bukan bencana. Manusia lah yang menjadikannya banjir sebagai bencana. Sedangkan alam hanya menjalankan hukum dan ketetapan yang sudah dimilikinya sebagai sebuah materi (alam itu sendiri)  yang telah ada.</p>
<p>Jadi bagaimana? Apa masih percaya dengan Jakarta? Atau, kita pindah saja Ibukota RI dari sini? Sebab di sini, penyakitnya sudah terlalu banyak. Sudah tak sehat. Lagi pula biar semua daerah punya kesempatan untuk berkembang. Siapa tahu, nanti pengangguran di Jakarta bisa gantian kabur pindah ke Ibukota negara yang baru. Nah… kalau sudah ada pemerataan, boleh deh ibu kota kembali ke Jakarta lagi….</p>
<p>Bukan begitu Bung Billy?</p>
<p>(Mati dalam peperangan itu biasa, tapi bukan berarti pergi berperang itu untuk mati. Konyol itu namanya)</p>
<p>Tabik</p>
<p>Hujan</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatanhujan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatanhujan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatanhujan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatanhujan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatanhujan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatanhujan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatanhujan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatanhujan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatanhujan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatanhujan.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatanhujan.wordpress.com&blog=5690230&post=31&subd=catatanhujan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/jakarta-sebuah-perspektif-dari-seorang-anak-desa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2dd1c47fe640877c2a3bd28b2ca538af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kapasmerah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Simponi Dalam Partitur</title>
		<link>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/simponi-dalam-partitur/</link>
		<comments>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/simponi-dalam-partitur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 17:03:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kapasmerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Naskah Drama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanhujan.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : T. Arief
Semacam  Pengantar
Manusia hidup memang untuk mencari-cari sesuatu yang dapat menjamin hidnupnya di dunia dan pasca dunia.Sehingga tak salah bila seluruh waktu manusia nyaris habis hanya untuk memuaskan keinginan-keinginan keberadaanya. Ada yang sukses dalam proses pencapaian keinginan itu, ada yang puas hanya dengan hasil separuh dari perjuangan proses itu dan ada yang gagal.
Apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatanhujan.wordpress.com&blog=5690230&post=24&subd=catatanhujan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh : T. Arief</p>
<p><strong>Semacam  Pengantar</strong></p>
<p>Manusia hidup memang untuk mencari-cari sesuatu yang dapat menjamin hidnupnya di dunia dan pasca dunia.Sehingga tak salah bila seluruh waktu manusia nyaris habis hanya untuk memuaskan keinginan-keinginan keberadaanya. Ada yang sukses dalam proses pencapaian keinginan itu, ada yang puas hanya dengan hasil separuh dari perjuangan proses itu dan ada yang gagal.<span id="more-24"></span></p>
<p>Apa bila gagal sudah menjadi sebuah akhiran, maka sisa dari waktu hidup manusia habis hanya untuk menyesali kegagalan itu. Tapi tidak semua yang gagal melakukan hal seperti itu. Ada yang lebih ekstrim dari pada sekedar eforia kegagalan. Yang menunjukkan bahwa kehidupan seorang manusia itu adalah sebuah ketololan dan kekonyolan. Ada yang gagal nekad hidup diatas kenyataan. Ada yang lupa, dan ada juga yang gila. Sedikit yang menyadari, apapun yang sudah didapat seseorang manusia sebenarnya adalah sesuatu yang dicari selama proses kehidupan ini. Dan yakinlah. Hidup bukanlah hal yang sia-sia.</p>
<p>Drama satu babak, tak ada kejelasan. Tak banyak pembicaraan. Tak banyak gesture dan gerakan. Semuanya terjadi begitu saja. Seperti alat musik yang dimainkan secara tak beraturan.</p>
<p>Semua merupakan  ekspresi dan eksperimen pemain yang dapat dikatakan tidak memiliki hubungan  satu sama lainya. Tidak punya korelasi antara tampilan seorang pemain dengan pemain lainya. Setiap pemain menampilkan adegan-adegan sendiri, adegan-adegan yang diharapkan mampu mewakili kegelisahan yang dihadapi dalam pencarian sebuah proses kehidupan manusia.</p>
<p>T.Arief (yang menulis)</p>
<p><strong>Babak I</strong></p>
<p>Lampu     : Gelap. Seperti sinaran yang kilat mengawali. Tiba-tiba terang. Terang           sekali. Kemudian redup. Perlahan-lahan lampu disorotkan pada sesosok pemain</p>
<p>Musik         : Seperti musik yang dimainkan secara kacau. Dalam tempo cepat. Seiring lampu yang meredup, musik kacau berubah menjadi lambat.</p>
<p>Panggung     : Kain-kain yang beraneka warna dipajang dan digelar disekeliling panggung. Selembar kertas koran yang kusut sebagai alas duduk orang keempat diantara side wing. Diatas kotan duduk orang keempat melipat kaki kesamping dan menatap redup kearah penonton. Setelah sinar lampu benar-benar terang, musik kacau berhenti, masuklah orang pertama.</p>
<p>1. Orang Pertama<br />
(masuk memakai jaket dan sepatu kets, tampilan urakan. Dekil, tidak terawat.mondar-mandir di atas panggung, seperti mencari sesuatu. Kemudian berhenti tepat di samping kanan orang keempat)<br />
Para hadirin, jamaknya irrasionalitas yang diberikan kehidupan. Seperti manusia yang terkurung dalam sebuah kamar yang terkunci dari luar. Terasa gerah. Pengap dan sumpek. Saat ini saya sedang berputar-pitar didalamnya dan memikirkan sesuatu.<br />
Alangkah indahnya, bila rutinitas yang sedang saya lakukan saat ini, tak saya lakukan lagi sama sekali. Mungkin akan lebih baik lagi bagi saya, bila saya tak sedang berada didalam kegilaan yang membosankan ini. (berjalan mengitari panggung). Tembok. Tembok. Dan tembok lagi. Sesekalinya saya terbentur pintu, pintu itu terkunci. Hidup bagi saya cuma menampilkan gerakan-gerakan maya. Tanpa sekalipun memberikan penghargaan atas usaha yang sudah saya lakukan selama ini. Padahal, saya tidak pernah mencari gampangnya saja.<br />
Sungguh tak adil. Tidak adil! Benar-benar saya tidak bisa percaya dengan ruangan ini. Saya tak percaya dengan aturan-aturan yang berlaku di dalam ruangan ini. Saya jengah, saya bosan.<br />
(menunduk dan melihat orang keempat). Pemandangan apa lagi ini? (mengitari orang keempat). Kesakitan, dan lagi-lagi kesakitan. Tapi tak apalah, aku sudah biasa dengan kesakitan. Mungkin pemandangan dalam sepenggal adegan ini dapat bercerita pada kita semua tentang sebuah eksistensi saya yang terperangkap dunia metafora.<br />
Hei, kamu! (menunjuk ke arah penonton). Yah kamu, ah…bukan, bukan kamu sayang. Itu tuh yang baju hijau, coba kemari dan coba amati pemandangan ini. Lebih dekat dan lebih cermat.<br />
(merapatkan telinganya) Apa? Ogah? Ah… sayang sekali, benar-benar sayang sekali. Padahal ada yang ingin disampaikanya pada anda secara pribadi. Tapi sudahlah. Tidak apa-apa. Ogah juga tak mengapa. Toh ogah juga bagian dari absurditas yang kehidupan tampilkan.<br />
(Berjalan menjauhi panggung). Tapi sebelum kita melihat kejutan-kejutan lain dari sebuah pemandangan yang kehidupan berikan….<br />
Dengan segala hormat (menundukkan badan)<br />
Dan… selamat ogah!<br />
(orang pertama keluar melalui side Kiri)</p>
<p>Musik         : Kembali keras dan dimainkan tak teratur</p>
<p>Lampu     : Sorot menyorot. Kemudian gelap, ketika terang, musik sudah berhenti</p>
<p>Panggung     : Kembali sepi. Orang keempat tetap seperti semula. Orang kedua masuk dari side kiri</p>
<p>2. Orang Kedua<br />
(memakai baju tidur, membawa guling kecil. Terlihat ketakutan dan seperti mencari sesuatu. Mengitari panggung. Berhenti di satu titik)<br />
Ibu, dimana kau? Aku takut. (kemudian berjalan kembali. Dan berhenti). Ibu, dimana kau? Aku takut. (seperti tadi, berulang- ulang). Ibu, dimana kau? Aku takut. (terus, sampai dia merasa bosan<br />
Dan kemudian berjalan menuju pintu dan keluar side kanan. Namun kembali lagi). Ibu, dimana kau? Aku takut. Ibu, dimana kau? Aku takut. Ibu, dimana kau? Aku takut.  (lalu keluar melalui side kanan)</p>
<p>Panggung     : Tetap seperti semula</p>
<p>Musik         : Tidak terdengar</p>
<p>Lampu     : Tetap terang</p>
<p>3. Orang Ketiga<br />
(masuk, begitu dekil. Terlihat gelisah dan mencari-cari sesuatu. Matanya terus mengedar ke penjuru panggung. Melangkah menjauhi side kanan dan berhenti di depan orang keempat. Matanya mencari-cari sesuatu diantara penonton. Kemudian melangkah. Tertawa kembali diam dan ketakuatan. Tertawa keras sekali. Tiba-tiba terdiam. Ketika matanya tertuju pada orang keempat, dengan hati-hati mendekati orang keempat, seperti ingin tahu dan selalu waspada. Seperti memastikan sesuatu. Tiba-tiba..). Ahhhh…..(kemudian lari meninggalkan panggung melalui side kanan)</p>
<p>Panggung     : Sepi</p>
<p>4. Orang Kedua<br />
(masuk. Masih seperti tadi). Ibu, dimana kau? aku takut.<br />
(kemudian berjalan kembali. Dan berhenti). Ibu, dimana kau? Aku takut. (seperti tadi, berulang- ulang). Ibu, dimana kau? Aku takut. (terus, sampai dia merasa bosan. Dan kemudian berjalan menuju side kiri)</p>
<p>Panggung     : Sepi</p>
<p>5. Orang Ketiga<br />
(kelelahan, berlari menuju panggung. Berhenti, membungkuk mengambil nafas. Kemudian berjalan mengitari panggung. Tersenyum. Kemudian tertawa keras. Sesaat kemudian berhenti tertawa dan kembali ketakutan kembali mencari-cari sesuatu. Berhenti pada orang keempat. Dan kembali berteriak). Ahhh….(dan lari menuju side kanan)</p>
<p>Panggung     : Sepi</p>
<p>6. Orang Kedua<br />
(terlihat bosan dan kesal. Berjalan mengitari panggung. Berhenti). Ibu, dimana kau? aku takut. (kemudian berjalan kembali. Begitu seharusnya, hingga akhirnya berdiri disisi orang keempat dan merebahkan diri). Ibu, dimana kau? aku takut. (tersenyum sendiri. Bangkit dan duduk di samping orang keempat. Menoleh kearah orang keempat. Memainkan guling kecilnya. Kemudian menangis…). Ibu, dimana kau? aku takut. (beranjak mengitari panggung dan seterusnya keluar dari side kiri)</p>
<p>Panggung     : Sepi</p>
<p>7. Orang Ketiga<br />
(muncul dari side kiri. Berlari sambil berteriak teriak. Terjatuh. Lari lagi. Kemudian jatuh disamping orang keempat. Kemudian lari kearah side kanan sambil berteriak-teriak)</p>
<p>8. Orang Kedua<br />
(muncul daru side kanan. Setengah menangis). Ibu, dimana kau? aku takut. (kembali mengitari panggung dengan nada yang kesal). Ibu dimana kau? aku takut… (begitu seterusnya, hingga orang ketiga muncul dari side kanan)</p>
<p>9. Orang Ketiga<br />
(berlari,. Berhenti di depan panggung menarik nafas dang ketakutan. Berlari lagi, mengitari panggung. Terus. Hingga akhirnya dia terjatuh didepan orang keempat. Berteriak ketakutan, menggeram). Ampun… aku lelah, aku tak bisa lari lagi…(terus mengulangi kata itu sembari menjauhi orang keempat. Merayap diantara kaki orang kedua menuju depan panggung melambaikan tangan pada penonton). Ampun,aku lelah, aku tak bisa lari lagi. (berteriak semakin keras dan cepat)</p>
<p>10. Orang Pertama<br />
(muncul dari side kiri. Seperti bingung dan marah. Melihat kearah orang edua, orang ketiga, orang keempat secara bergantian. Kemudian…)<br />
Diam!! Diam!!! Diaaammm!!</p>
<p>11. Orang Kedua<br />
(duduk disi orang keempat masih terus…). Ibu, dimana kau? aku takut. (namun dengan suara yang pelan)</p>
<p>12. Orang Ketiga<br />
(bergeser kearah panggung sambil merayap..). ampun, aku lelah, aku tak bisa lari lagi (dengan suara pelan)</p>
<p>13. Orang Pertama<br />
(dengan kesal). Sudah cukup adeganya.. sudah cukup kebosanan yang kita tampilkan. Stop! Setop!! Setoop!!<br />
(panggung sepi, semua terdiam, kemudian orang pertama maju kedepan panggung)<br />
Bagaimana? Para hadirin sekalian…. Cukup membosankan bukan? Ruangan ini benar-benar membosankan. Dan saya begitu bosan untuk terus menerus tinggal didalamnya. Sekarang saya sedang gelisah dengan kebosanan bosan saya sendiri. Saya juga sudah mulai ogah untuk terus memandangi pemandangan yang ada didepan saya. Sepertinya saya harus mengakhiri kemabiguan eksistensdunia saya. Mungkin, mati adalah tindakan yang heroik dan sejati. (semua pemain berdiri dan berjalan perlahan membentuk barisan). Dan saya yakin, saya tak akan lagi mengulangi pengulangan yang membosankan hari-hari saya.</p>
<p>Panggung     : Semua pemain memberikan salam</p>
<p>Musik         : Terdengar lembut dan berirama indah</p>
<p>Lampu     : Suram</p>
<p><em>Simponi Dalam Partitur atawa kegelisahan, dimainkan pertama kali pada 12 Januari 2004. pementasan dilaksanakan di ruangan aula 301, Universitas Bung Karno, dalam acara perkenalan anggota baru Teater Putra Sang Fajar. Dan bersifat umum. Merupakan buah fantasi T. Arief dan di kembangkan bersama ketika dalam proses latihan.</p>
<p>“Simponi Dalam Partitur”<br />
Script by T. Arief<br />
Humas by Myranti<br />
Lighting by T. Arif<br />
Set decoration by Marizha<br />
Dokumentation by Delius</p>
<p>Cast<br />
Orang pertama     T. Arif<br />
Orang kedua     Miranti<br />
Orang ketiga     Iwan Setiawan<br />
Orang keempat      Marizha</p>
<p></em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatanhujan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatanhujan.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatanhujan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatanhujan.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatanhujan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatanhujan.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatanhujan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatanhujan.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatanhujan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatanhujan.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatanhujan.wordpress.com&blog=5690230&post=24&subd=catatanhujan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/12/08/simponi-dalam-partitur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2dd1c47fe640877c2a3bd28b2ca538af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kapasmerah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Ketika iblis menikahi seorang perempuan”</title>
		<link>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/07/08/%e2%80%9cketika-iblis-menikahi-seorang-perempuan%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/07/08/%e2%80%9cketika-iblis-menikahi-seorang-perempuan%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 17:05:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kapasmerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Naskah Drama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanhujan.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Dari sebuah cerita rakyat Firenze..
Berdasarkan Nicolo Machiavelli
“Ketika iblis menikahi seorang perempuan”
Disadur ke dalam drama
Sebebas-bebasnya
Oleh: T. Arief
Nicholo Machiavelli, lahir di Fiorentina pada 1469.  Ketika itu Itali masih berbentu negara kota. Beliau tumbuh dikalangan borjuis. Mengabdi pada keluarga Medici. Machiavelli dikenal melalui bukunya Il Principe.  Dengan zargon, menghalalkan segala cara, dia dikenal sebagai “nabinya” para penguasa yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatanhujan.wordpress.com&blog=5690230&post=27&subd=catatanhujan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dari sebuah cerita rakyat Firenze..<br />
Berdasarkan Nicolo Machiavelli</p>
<p><strong>“Ketika iblis menikahi seorang perempuan”</strong></p>
<p>Disadur ke dalam drama<br />
Sebebas-bebasnya<br />
Oleh: T. Arief<span id="more-27"></span></p>
<p>Nicholo Machiavelli, lahir di Fiorentina pada 1469.  Ketika itu Itali masih berbentu negara kota. Beliau tumbuh dikalangan borjuis. Mengabdi pada keluarga Medici. Machiavelli dikenal melalui bukunya Il Principe.  Dengan zargon, menghalalkan segala cara, dia dikenal sebagai “nabinya” para penguasa yang diktator.<br />
Beliau tutup mata pada tahun 1527.</p>
<p>Buku yang ditulisnya:<br />
1.    Discources<br />
2.    Il Principe<br />
3.    Art of war<br />
4.    La Mandragola</p>
<p><strong> Sinopsis</strong></p>
<p>Apa jadinya bila semua pria di neraka mengeluhkan keluhan yang sama, dan terdengar unik?<br />
Yang pasti, konon tak ada yang bisa seenaknya mengeluarkan pendapat di sana.<br />
Namun begitulah, yang terjadi adalah sebaliknya, neraka tiba-tiba dapat berlaku arif dan adil dalam menimbang alasan pada manusia.   Machiavelli bercerita dengan segenap ironi dan dengan satirenya.<br />
Adalah Belfagor, yang dulu, ketika sebelum menjadi setan adalah malaikat yang paling baik, menjadi proyek eksperimental pengisi neraka.<br />
Demokratis sekali penguasa neraka, ketika menunjuk Belfagor untuk menjadi seorang utusan dalam mengemban tugas berat.<br />
Dengan sebuah misi, Belfagor di hidupkan oleh Machavelli sebagai setan pemaaf, penakut. Jauh dari karakter bawaan. Dan begitu pulalah, akhir cerita rakyat ini. dan (dengan segala sikap yang seharusnya tak setan miliki?) pada akhirnya, seperti dongeng-dongeng kebanyakan.  Kejahatan pasti kalah. Dan kebenaran pemenangnya.  Machiavelli menggambarkan kebalikan dari itu semua. Dan nampaknya semua orang tak setuju akan hal itu. inilah. Inilah kebenaran yang terpinggirkan. Neraka harus diisi oleh orang-orang yang jahat, dan suami-suami yang terjerat kaum istri.<br />
Maka, inilah yang seharusnya terjadi, bukan satire. Tapi fakta yang harus diketahui.</p>
<p>T. Arief</p>
<p><strong>Bagian  1</strong><br />
I.    Neraka</p>
<p>Lampu      : Redup, dominasi warnah merah suram<br />
Musik        :Gothik, seram dan membuat suasana mencekam<br />
Panggung : Cuma ada peti panjang, terletak di tengah panggung                       antara side kiri dan side kanan.</p>
<p>Di panggung terlihat dua ekor setan sedang terlibat diskusi hebat, seekor berdiri menghadap penonton, dan lainya duduk di peti sambil melihat list dari sebuah kitab</p>
<p>1. Minos<br />
(duduk di atas peti, tersenyum melihat list nya)<br />
Sudah lama aku bertugas di lembah ini. sudah banyak korbanku yang masuk kesini. Tua, muda. Wanita, pria. Dengan kasus-kasus yang berbeda-beda. (kemudian berdiri dan melangkah kedepan)</p>
<p>2. Radhamantus<br />
Yeah.. kesuksesan kita. (mencibir kepenonton). Pembunuhan, pencurian, penipuan, pencabulan, tindak kriminal lainya…<br />
Itu semua karena aku. Hahahaha</p>
<p>3. Minos<br />
(Mengangguk. Mulai mengolok rekanya). Iya, ya. Aku tahu, kau memang pakarnya dalam hal itu. Tapi yang menjerumuskan mereka… itu ‘kan karena prakarsa aku. Kalau bukan atas informasi dariku, mana mungkin kau bisa mengajak mereka semua datang ke tempat ini. hehehe. Asal kau tahu saja yah, jelek-jelek begini aku juga punya korban.</p>
<p>4. Radhamantus<br />
Hah.. kau punya korban juga? Ku pikir tugasmu cuma mencatat saja.(mendekati Minos).</p>
<p>5. Minos<br />
Belum tahu dia. (pura-pura mengalah. Kemudian berjalan lebih kedepan). Eh…coba kau lihat orang itu?</p>
<p>6. Radhamantus<br />
Yang mana..(mencari-cari diantara para penonton) terlalu banyak orang disini. Yang mana sih? (minos menunjukkan seseorang), oh, yang itu? bukan? Yang… yah, yah… yang itu khan ? orang baru itu.</p>
<p>7. Minos<br />
Iya,  tahu khan? (Radhamantus menggeleng)</p>
<p>8. Radhamantus<br />
Aku tak ingat lagi wajah-wajah korbanku. Apalagi dengan dosa dan kasusnya.</p>
<p>9. Minos<br />
Ah… payah. Coba kau ingat-ingat, apa dosanya…</p>
<p>10. Radhamantus<br />
(seperti mengingat sesuatu) Siapa orang itu? sepertinya….<br />
Ah.. gak jauh-jauh dari kriminal lah..(merasa gembira).<br />
Dari tampangnya saja sudah kelihatan..<br />
Tapi, siapa dia? Siapa sih? Aku kok tidak mengenalnya.Tapi…  Siapapun dia, yang jelas dia penjahat kriminal</p>
<p>11. Minos<br />
Hahaha… kau salah! Kau salah..! (pergi menghindari rekanya)</p>
<p>12. Radhamantus<br />
(seperti dipermainkan) Ah.. sial! Seperti yang tahu saja kau! Dasar setan celaka!</p>
<p>13. Minos<br />
(berbisik pada penonton), dasar setan idiot. (kepada Radhamantus) Nasibkulah mendapat partner sepertimu</p>
<p>14. Radhamantus<br />
(marah) . Tutup mulutmu setan banci! (minos terdiam) Kalau kau berani kita duel. Face to face</p>
<p>15. Minos<br />
(langsung takut dan membujuk rekanya). Tenang kawanku. Tenang. Sesama setan harus saling mengasihi. Mana berani aku aku melawanmu. Yang benar saja bos. Kau setan terkuat di lembah ini. bahkan korbanmu tak terhitung banyaknya. Begini saudaraku, aku lebih tahu tentang orang itu, karena akulah yang menyebabkannya terdampar keneraka ini.</p>
<p>16. Rhadamantus<br />
Kau mempermainkan aku setan banci. Ceritakan, padaku bagaimana kisahnya, dan ceritakan pula, bagaimana kau bisa naik keatas sana…</p>
<p>17. Minos<br />
Ya, begini, tapi sebelumnya off the record ya.. janji ya?(kemudian minos menyodorkan kelingkingnya) suatu hari aku kesal sekali sama Pluto, lalu diam- diam aku mencuri waktu dan naik keatas sana. Cuma sekedar menghilangkan kesal aja kok. Suer, gak lebih dari itu.</p>
<p>18. Rhadamantus<br />
Yah semua setan yang ada disini juga merasakan hal yang sama. Terus bagaimana? Lanjutkan..</p>
<p>19. Minos<br />
Nah, pas aku lagi berjalan jalan dipasar Florence… aku pikir, tidak apalah menggoda seseorang. Hitung-hitung melatih bakat kesetananku. Benar ‘kan? (rekannya mengangguk).  Nah ini cerita tentang orang itu.<br />
Hm… kawanku, dia tak seperti yang kau duga. Memang sih, tampangnya seperti jagoan pasar di Athena. Tampang kriminil…..<br />
Kesini, biar aku beritahu kau. Sebenarnya, Dosa lelaki itu adalah subversif!!</p>
<p>20. Rhadamantus<br />
Hah?? Apa itu subversif?</p>
<p>21. Minos<br />
Sttt…! Entahlah. Aku juga tidak tahu apa artinya. Tapi setidaknya begitulah orang-orang diatas sana mengatakan tentang dosanya</p>
<p>22. Rhadamantus<br />
Coba kau ceritakan dengan sederhana dan dengan bahasa neraka. Aku tak butuh suasana manusia guoblok!!</p>
<p>23. Minos<br />
Sabar… sabar. Yah, begini sederhanya. Yah..yah… wanita, perempuan, female, betina atau apalah namanya…..</p>
<p>24. Rhadamantus<br />
Aku mendengarkan Minos. Ada apa dengan wanita, dan apa hubungannya dengan… apa namanya tadi? Inisiatif, subsidi? Ah… apalah yang tadi itu, yang pakai sif-sif tadi…</p>
<p>25. Minos<br />
Oh, subversif kawan. Lelaki bertampang kriminal itu adalah seorang menteri istana di Sardinia. Dan yang paling penting… dia adalah seorang pemuja wanita!!</p>
<p>26. Rhadamantus<br />
Itu bagus. Terus. Lanjutkan</p>
<p>27. Minos<br />
Dia suami dari seorang wanita yang cerewet. Bawel abis. Suka merintah dan sedikit ringan tangan</p>
<p>28. Rhadamantus<br />
Konyol, konyol. Pria seseram dan bermartabat seperti dia, takut pada istrinya? Ini baru lucu, ini lucu. Hahahaha</p>
<p>29. Minos<br />
Yah, dia ‘kan seorang pemuja wanita, wajar dong. (mereka berdua tersenyum-senyum) nah, pada suatu titik kejenuhanya pada sang istri….</p>
<p>30. Rhadamantus<br />
(memotong) dia membunuhnya… dia membunuh wanita celaka itu…!</p>
<p>31. Minos<br />
Bukan. Biar ku selesaikan dahulu ceritanya. Dia lari bersama istri pangeran Sardinia.</p>
<p>32. Rhadamantus<br />
(kaget) Apa??? Bahkan setan tak akan melakukan kejahatan itu. bagaimana istrinya, bagaimana pangeran Sardinia itu?</p>
<p>33. Minos<br />
Hal-hal konyol berlaku dalam kehidupan manusia. Puji syukur pada dewa karena kita tidak pernah melakukan hal-hal konyol seperti manusia. Sang pemuja wanita terpaksa mengikuti kehendak putri sardinia. Untuk membawa putri itu lari. Kau tahu? (Rhadamantus menggeleng) ternyata pangeran Sardinia tak cukup jantan bagi betina itu. berkat bisikkanku, sang pemuja wanita akhirnya melepaskan jabatanya sebagai menteri, hanya untuk seorang istri yang tak setia… dan istrinya? Dan sang pangeran? Mereka kawin, bersenang-senang diatas ratapan lelaki itu yang menjadi terdakwa hukuman mati. Karena tuduhan mencemarkan nama baik istana..</p>
<p>34. Rhadamantus<br />
Benar-benar tragis. Sempurna, kerjamu tak sia-sia. Aplaus untukmu. Nasibmu sang pemuja wanita. Entahlah, aku tak tahu apa yang akan menimpa sang pangeran bila hidup  bersama dengan istri celaka sang pemuja wanita. Hahaha. Hey, bagaimana dengan nasib sang putri</p>
<p>35. Minos<br />
Wanita tetaplah wanita. Bahkan putri itu tak pernah disentuh oleh sang pemuja wanita. Dia lari dengan pengusaha garmen asal mesir. (kedua setan tersenyum). Kau tahu, pesan terakhir lelaki itu sebelum dia dipenggal? (rekannya menggeleng) “Sampaikan pada istriku!!!! I-love-her!!!!”</p>
<p>36. Rhadamantus<br />
Hahaa. Benar-banar, dia pasti akan mati berkali-kali, hahahaha<br />
(minos ikut tertawa)</p>
<p><strong>II.    Neraka</strong></p>
<p>Pluto masuk, wajahnya begitu lelah. Terlihat marah. Kedua setan langsung terdiam, dan memberi jalan pada Pluto<br />
37. Pluto<br />
Tutup mulut kalian!! Apa yang kalian tertawakan!</p>
<p>38. Minos + Rhadamantus<br />
(serempak) Seorang wanita yang mulia….</p>
<p>39. Pluto<br />
(memegang dahinya) ah… sudah cukup, wanita… wanita lagi…<br />
apa semua korban kalian memiliki alasan yang sama? Jangan bilang padaku kalau jawabanya “iya”</p>
<p>40. Rhadamantus<br />
(keki) iya yang mulia, ah maaf yang mulia. Maksud hamba, suka atau tidak suka jawabanya memang… (dengan berbisik) “iya”</p>
<p>41. Pluto<br />
Separah itu wanita di atas sana memperlakukan Pria? Setiap setan yang datang padaku memberikan laporan yang sama! Pusing aku kalo begini! Jangan bilang ini kesuksesan wanita ataupun para istri. Minos! (minos langsung takut dan bersiap) panggil setan-setan yang lainya! Saat ini juga   aku akan membahas ini. Aku inginkan sebuah mubes istimewa…..</p>
<p>42. Minos<br />
(terburu-buru) siap yang mulia… (berbisik pada Rhadamantus) tapi mubes itu apa? (rekannya juga terlihat tidak mengerti.. Lalu minos keluar panggung)</p>
<p>43. Pluto<br />
Aku tak percaya. Hampir separuh lelaki yang ada disini adalah korban wanita dan para istri. Aku kecewa dengan laporan ini. aku harap, laporan ini tidak valid sama sekali, hah….(kemudian duduk diatas peti)</p>
<p>Masuk Minos bersama setan lainya</p>
<p>44. Rhadamantus<br />
(mencoba mengambil hati Pluto) sebagai protokoler yang mulia, izinkan saya…</p>
<p>45. Pluto<br />
Cukup!! Biar aku saja. Hm.. hmmm (berlagak memakai sound system) tes…tes… check sound.. side corner? Oke? Yap? Sip…<br />
Saudaraku sesama setan. Belakangan ini semakin santer saja hujatan yang dilontarkan kepada kita. Aku minta pendapat dan masukan dari kamu semua, aku mau ini semua terungkap. Tak ada seorang manusiapun yang dapat berbohong di wilayahku. Sekarang inilah pidatoku.<br />
Wahai segenap warga neraka yang diberkati, walaupun aku menguasai wilayah ini dengan kekuasaan dan kehendak takdir yang tak bisa diubah, dan karena itulah aku tidak bisa ditundukkan dalam forum manapun. Baik di atas sana, maupun neraka. Bagaimanapun, pihak yang sangat berkuasa harus menunjukan kebijak sanaan terbesar dalam ketaatanya kepada hukum dan dalam menghargai pendapat orang lain. Maka aku memutuskan untuk meminta pendapat kalian semua tentang, bagaimana aku harus mengambil tindakan. Sebab hujatan para lelaki yang datang ke neraka ini mengatakan bahwa penyebabnya adalah karena mereka punya istri? Ini tak masuk akalku. Bila takut dalam pengambilan keputusan nanti, kita pasti dicela karena terlalu naif, mudah percaya, atau sebaliknya, karena kurang tegas dalam proses hukum. Jangan sampai terjadi kesalahan pengambilan keputusan. Maka aku kumpulkan kalian semua untuk mengakhiri masalah ini. sehingga neraka ini tetap suci, tentram tanpa hujatan.</p>
<p>Semua setan berdiskusi</p>
<p>46. Minos<br />
(takut-takut) Permisi yang mulia. Saya punya usul</p>
<p>47. Pluto<br />
Ya, silahkan. 3 kata, singkat, padat, tepat</p>
<p>48. Minos<br />
terima kasih dewa. Menurut hamba, harus ada yang tahu persis kronologis kejadian kehidupan para lelaki diatas sana. Sebagai jawaban persoalan ini</p>
<p>49. Rhadamantus<br />
Benar yang mulia, harus ada yang naik kesana. Menyamar menjadi manusia</p>
<p>50. Pluto<br />
Bagaimana caranya? Beritahu aku tentang idemu itu</p>
<p>51. Rhadamantus<br />
(memotong) begini yang mulia. Sederhana saja. Kita utus seorang dari setan yang hadir disini untuk dilahirkan menjadi manusia, kemudian dia akan mengalami proses sebagaimana manusia umumnya. Mengalami penderitaan, sakit, kemiskinan. Hanya dengan cara itu, kita dapat mengetahui jawabanya.</p>
<p>52. Pluto<br />
Begitu? Menurutmu apa itu akan berhasil? Kalau memang itu tepat, siapa yang harus naik kesana?</p>
<p>53. Minos<br />
Kalau main tanya seperti itu, tidak ada yang mau yang mulia. Tapi kalau di undi, hamba pikir itu yang terbaik. Khan sekarang jamanya demokrasi. Hehehe. Tapi, ngomong-ngomong saya tidak ikut dalam undian ya?</p>
<p>54. Rhadamantus<br />
Enak saja kau setan banci! Yang mulia, lebih baik tunjuk hidung saja! Itu akan membuat yang mulia semakin adi kuasa. Hm.. demokrasi, demokrasi. Demokrasi embahmu! (melirik minos)</p>
<p>55. Pluto<br />
Hahaha…. Kau memang pemain hebat Rhadamantus (memukul pundak rhadamantus. Rhadamantus tersenyum) baiklah, aku tunjuk kau untuk naik menjadi manusia.</p>
<p>56. Rhadamantus<br />
(ketakutan) maafkan hamba. Bukan maksud hamba mendebat perintah yang mulia. Dalam kasus ini saya memiliki perhitungan sendiri yang mulia.</p>
<p>57. Pluto<br />
(geram) banyak bicara kau! Ayo beri tahu aku perhitunganmu itu</p>
<p>58. Rhadamantus<br />
Diantara kita yang hadir disini, ada seekor setan yang memiliki track record yang gemilang. (semua setan bertanya-tanya) terkuat, terpintar, terbaik, terbesar, dan tertampan..<br />
Bila kita mengabaikanya, sungguh neraka ini pasti bisa kehilangan muka</p>
<p>Semua setan terdiam,mata mereka tertuju pada sesosok setan yang paling tampan</p>
<p>59. Pluto<br />
(seperti takjub) ahai…. Aku baru teringat padamu Belfagor! Bekas malaikat terbaik yang pernah surga miliki. Aset terbaik neraka ini…</p>
<p>60. Belfagor<br />
(kaget, ketakutan) ta… tapi,  yang mulia….</p>
<p>61. Rhadamantus<br />
Kau akan naik dan menjadi manusia. Kau akan dibekali uang 100.000 ducat. Dengan bekal itu, kau akan dilepas ke bumi sebagai orang kaya dan dalam wujud manusia.<br />
Menikahi seorang wanita dan hidup denganya selama 10 tahun. Kemudian kau harus mati dan kembali ke neraka untuk memberi laporan tentang beban dan cobaan dalam perkawinan</p>
<p>62. Pluto<br />
Itulah aturanya. Nah Belfagor, naiklah kesana. Nama baik neraka ini  terletak diatas pundak mu.</p>
<p>63. Belfagor<br />
Tapi yang mulia! Hamba sanggup menciptakan kejahatan yang paling sadis. Membuat anak durhaka pada orang tua, membuat teman berhianat, membuat pemimpin-pemimpin menjadi lupa pada rakyatnya, membuat suami-suami pergi kerumah bordil. Dan untuk tugas yang satu ini? Semoga aku terkutuk selamanya di lembah ini. Aku tak pernah bermimpi untuk menjadi manusia dan hidup beristri. Tolong hamba yang mulia. Jangan beri hamba tugas yang maha dahsyat ini.</p>
<p>64. Pluto<br />
Sudah ketetapanku! (berdiri) aku penguasa disini!</p>
<p>65. Belfagor<br />
Baiklah yang mulia, aku akan kesana sekarang  juga, tapi, hamba punya permintaan…(mengambil kantong uang dari Rhadamantus)</p>
<p>66. Minos<br />
Hey Jangan bilang permintaanmu yang terakhir saudaraku (menggoda)</p>
<p>67. Belfagor<br />
Hamba akan menjadi manusia. Dan kaya. Sebagaimana manusia-manusia yang kaya,di bumi, mereka memiliki pembantu, kacung. Babu.<br />
Hamba memohon pada yang mulia. Sudilah teman-teman hamba ini ikut dalam misi ini dan menjadi pembantu hamba. Minos dan Rhadamantus adalah senior hamba dan paling dekat dengan hamba. (tersenyum licik memandang dua setan lainya)</p>
<p>68. Minos + Rhadamantus<br />
(kesal, marah dan ingin menjangkau Belfagor) tapi…. Huh… sialan.. kau…!</p>
<p>69. Pluto<br />
(mengangguk setuju) yah, kalian berdua.. sertai Belfagor. Ajari dia, tidak ada interupsi lagi. Segera laksanakan misi ini. Selamat bekerja. Aku tunggu laporan  kalian semua</p>
<p><strong>III.     Rumah Roderick/ Belfagor</strong></p>
<p>Lampu         : Sedikit cerah<br />
Musik        : Terdengar lembut, kemudian bising seketika, pelan-<br />
pelan     tenang   seiring lampu yang semakin terang<br />
Panggung     : setinggnya seperti pertama, Cuma ada peti di tengah<br />
panggung<br />
70. Honesta<br />
(masuk,jengkel, tergesa-gesa, ngomel sendiri) huh… dimana sih Roderick! Kemana saja dia… tak tahu apa aku ini capek? Huh.. dasar cengeng… hey kalian!!!! Dimana kalian babu-babu sialan?? kemari cepat…. Ah… benar-benar ini.. Keterlaluan, kalian semua sama saja… pemalas… (kemudian keluar panggung)</p>
<p>71. Rhadamantus<br />
(menggotong sebuah kursi bersama Minos) ini semua karena idemu tolol… (sembari menghempaskan bangku itu dan dengan cepat mendorong kepala Minos dengan jarinya) aku bersumpah akan membunuh wanita itu…</p>
<p>72. Minos<br />
Ahh.. apa? Ide siapa?? Ini idemu setan idiot. Kalau kau tak cari muka pada Pluto, kita tak akan seperti ini. (bergegas menjuhi rekanya dan pura-pura membersihkan kursi itu)</p>
<p>73. Rhadamantus<br />
Apakau bilang?? (seperti mau menyerang Minos, namun Minos menghindar) kau berani melawanku? Kau sudah tak takt lagi padaku ya? Awas kau (mendorong Minos)</p>
<p>74. Minos<br />
(mendekat dan marah) diam kau!! Aku sudah tak takut lagi padamu… sekarang aku lebih takut pada wanita itu…kau…(seperti mau membalas, namun tiba-tiba bersedih) dasar… iblis… betina…</p>
<p>75. Rhadamantus<br />
(tiba-tiba lunak, ikut bersedih,dan mendekati minos dengan rasa bersalah) yah… selama kurang dari setahun ini kita bekerja, aku sudah mendapat ribuan cacian…. Nyonya besar itu, telah menjatuhkan reputasiku didepanmu. (kemudian mereka saling curhat) aku sudah tak kuat. Bukan itu saja, dia malah pernah melemparku dengan sepatu baunya.. memalukan.. (terisak, hilang keperkasaannya)</p>
<p>76. Minos<br />
(memegang bahu rekannya, mulai terbawa suasana) sebelum kita memerankn pembantu tahun imi… yah, aku ingat. 2 tahun yang lalu. Aku pernah disiram pakai air bekas pembasuh kakinya…</p>
<p>77. Rhadamantus<br />
(kaget) alamak… kau juga? ( Minos mengannguk) aku bahkan pernah tidak diberi makan. Di kurung di kandang kuda…menjijikkan…</p>
<p>78. Minos<br />
(mau muntah) sinting.. separah itu? Tapi saudaraku itu belum seberapa…</p>
<p>79. Rhadamantus<br />
Memangnya kau pernah di hukum lebih sadis dari itu? (Minos mengangguk)</p>
<p>80. Minos<br />
Tapi berjanjilah, jangan pernah menceritakan ini pada siapapun.. (dia bersalaman dengan rekanya) janji ya? (rekanya menggangguk) bener ya? Janji setan lho…</p>
<p>81. Rhadamantus<br />
Janji, dan tidak akan aku ceritakan sama siapapun..</p>
<p>82. Minos<br />
(sedikit tenang, dan mulai menangis) aku pernah… aku pernah… aku pernah…diperintahkan untuk memakai celana dalam milik dia….(sambil teriak)</p>
<p>83. Rhadamantus<br />
(terkejut dan jatuh) busyet dah…</p>
<p>84. Minos<br />
Itu semua ku terima, karena aku lupa menaruhkan rempah-rempah kedalam air mandinya….<br />
(perlahan lahan Rhadamantus bangkit) kawan kemari sebentar (lalu mereka berjalan kebelakang peti) coba kau lihat… (membuka celananya)</p>
<p>85. Rhadamantus<br />
(kaget, mau muntah) kau masih memakainya???</p>
<p>86. Minos<br />
Sampai bulan depan. Dan aku harus menunjukkan padanya setiap malam, sebagai bukti…</p>
<p>87. Rhadamantus<br />
Dan kau….</p>
<p>88. Minos<br />
Aku tersiksa kawan… tersiksa oleh celana ketat yang menekan bagian bawahku…. (teriak menangis)</p>
<p>89. Rhadamantus<br />
Sungguh berat hidup dan bersinggungan dengan wanita. Belum genap 7 tahun kita bekerja, sudah puluhan kali kita datang dan pergi dalam wujud yang berganti. Begitu kasarnya dia memperlakukan kita</p>
<p>90. Minos<br />
Yah, aku sudah mulai tak betah dengan wujud yang sekarang ini.</p>
<p>91. Rhadamantus<br />
Ah… dalam wujud apapun! Selama kita masih menjadi budak betina ini. 10 tahun….<br />
Oh…kawanku Belfagor malang nian nasibmu</p>
<p>92. Minos<br />
Aku tidak tahu, apa yang dilakukan nenek sihir itu bila sudah berada berdua dengan Belfagor di atas ranjang</p>
<p>93. Rhadamantus<br />
Cukuplah dia mewakili penderitaan para setan</p>
<p>Masuk honesta, Istri Roderick. Kedua setan itu pura-pura kembali pada kesibukanya masing-masing</p>
<p>94. Minos<br />
Celaka! Iblis betina itu mulai lagi… hati-hati kawanku..</p>
<p>95. Honesta<br />
Hey! Apa yang kalian lihat? Sana… bekerja! Jangan buat aku semakin murka! Roderick!! Dasar cengeng… Roderick, kemari kau!!!</p>
<p>96. Belfagor<br />
(masuk terengah-engah ketakutan) i…iya, iya honeyku, aku disini. Aku datang memenuhi panggilanmu.</p>
<p>97. Honesta<br />
Pemalas!! Kesini… buruan!!! (kemudian duduk di kursi, kedua setan pergi meninggalkan panggung)</p>
<p>98. Belfagor<br />
Mana yang pegel honeyku. Ini yah? (mengurut lengan honesta) kasihan, kamu capek ya? Bagaimana pestanya?</p>
<p>99. Honesta<br />
Pesta payah… semua yang datang memakai kostum yang trendi, ah… sepatu ini, sudah sempit dan ketinggalan jaman</p>
<p>100. Belfagor<br />
Baiklah honeyku, nanti aku belikan yang baru</p>
<p>101. Honesta<br />
Benarkah sayang? Ini, nih yang pegal… (menunjuk kakinya) kapan kau akan membelikanya untukku?<br />
102. Belfagor<br />
Secepatnya honeyku</p>
<p>103. Honesta<br />
Bagus. Tapi ingat ya, semuanya harus yang mahal. Biar para istri di kompleks ini tetap iri bila melihatku. Sabtu ini akan ada pesta di rumah gubernur. Arisan. Bisakah kau sediakan untukku sebelum hari sabtu? (dengan manja)</p>
<p>104. Belfagor<br />
Iya.. iya. Pasti honeyku.  Apapun kulakukan untuk membuatmu senang</p>
<p>105. Honesta<br />
Gitu dong. Turun dikit. Iya, itu yang pegal. Roderick, apakah kau sudah mengirim uang untuk adikku yang di timur sana?</p>
<p>106. Belfagor<br />
Sudah honeyku. Aku sudah mengirimnya melalui seorang kurir yang bisa dipercaya</p>
<p>107. Honesta<br />
Roderick, kau baik sekali.  Ayahku akan menikahkan adik perempuanku. Pesta itu akan dilangsungkan dengan besar-besaran. Selama 7 hari 7 malam.</p>
<p>108. Belfagor<br />
Honeyku, kapan pesta itu akan di gelar?</p>
<p>109. Honesta<br />
Akhir bulan ini…</p>
<p>110. Belfagor<br />
Mampus aku!</p>
<p>111. Honesta<br />
Kenapa kau menggerutu? Tidak mau bantu yah?!!</p>
<p>112. Belfagor<br />
(ketakutan). Bukan honeyku, maksudku…pasti aku bantu. Hal itu kecil bagiku, tapi….</p>
<p>113. Honesta<br />
Tetapi apa! Jangan banyak alasan ya!!</p>
<p>114. Belfagor<br />
Aku ‘kan baru saja melunasi hutang yang disebabkan adikmu. Sekarang usahaku juga terancam bangkrut. Mengertilah honeyku. Bisakah….</p>
<p>115. Honesta<br />
(marah. Berdiri tiba-tiba). Hah… aku tidak mau tahu! Kau bayar utang, usahamu sekarat, kau diincar-incar kreditur… bodo’ amat!<br />
Yang penting pesta itu tidak membuat keluargaku kehilangan muka. Dan yang harus kau ingat, sabtu ini, aku juga minta kereta yang baru…. (lantas beranjak dan pergi keluar panggung)</p>
<p>116. Belfagor<br />
(berdiri, meratap). Oh… inilah yang dirasakan para suami. Cukup! Aku tak kuat  lagi. Berapa lama lagi aku harus hidup bersama wanita ini.. oh.. aku sangat mencintainya. Sungguh-sungguh dilema. Dan aku, aku  harus memenuhi segala kemewahannya. Sabtu ini, aku harus memenuhi permintaanya. Sementara, sesenpun aku tak punya uang lagi…..(menangis dan terduduk lesu)<br />
Minos! Rhadamantus! Kemana kalian???! (berteriak-teriak. Beberapa lama kemudian muncul minos dan Rhadamantus membawa buntelan)<br />
Hah… apa-apaan ini? mau kemana lagi kalian?<br />
Demi penderitaan para suami, jangan tinggalkan aku…</p>
<p>117. Minos<br />
Maaf kawanku. Kami sudah tak tahan…</p>
<p>118. Rhadamantus<br />
Dan kami bersumpah, tak akan pernah datang kesini lagi. Bahkan neraka tidak sekejam rumah ini…</p>
<p>119. Belfagor<br />
(merengek). Tolong, jangan biarkan aku sendiri…</p>
<p>120. Rhadamantus<br />
Berhentilah mengiba saudaraku. Terimalah nasib ini. kau harus bertahan. Kau sudah melewati berbagai penderitaan yang berat. Begitu juga kami…</p>
<p>121. Belfagor<br />
Tapi… tapi mau kemana kalian…. Tinggallah. Bantu aku.</p>
<p>122. Minos<br />
Kami sudah tahu apa yang harus kami bantu. Tapi sungguh, Ini diluar kemampuan kita semua. (beranjak) ayo Rhadamantus…</p>
<p>123. Rhathamantus<br />
Maafkan kami. Sesampai di neraka, kami pasti menceritakan penderitaanmu pada Pluto.</p>
<p>124. Minos<br />
Bye… selamat tinggal suadaraku.. (kemudian pada Rhadamantus) ayo kita pulang..</p>
<p>125. Rhathamantus<br />
Iya. Tapi sebelum kembali ke neraka, aku mau vakansi dulu, mau shoping dan cuci mata. Kau harus menemaniku Minos. (berbisik pada Minos).</p>
<p>126. Belfagor<br />
(menyusul mereka). Teganya kalian memerosokkan aku dalam kehinaan…</p>
<p>127. Minos<br />
Selamat bertemu lagi di neraka Belfagor….<br />
(minos dan rhadamantus keluar panggung)</p>
<p>128. Belfagor<br />
(menyesali nasibnya). Dasar setan… begitulah sifat dasar setan. Pinter bermanuver. Memerosokkan. Dan mereka senang diatas penderitaan orang lain.<br />
Oh.. nasibku. Aku adalah iblis yang bengis. Kejahatan apa yang tak bisa aku bisikkan, korbanku tak terhitung lagi banyaknya. Aku lihai dalam menjalankan tugas sebagai setan. Aku sendiri puas dengan prestasi itu. tapi sekarang… aku malu untuk mengaku sebagai setan yang yang berprestasi. Aku tidak mampu mempengaruhi istriku. Cintanya begitu besar. sehingga aku hanya bisa menuruti segala permintaannya. Honesta honeyku, kau istriku. Kau berbakat besar menjadi setan.<br />
Ah.. dimana aku harus mencari uang untuk memenuhi segala kemewahanmu? (menangis) Minos.. Rhadamantus…. (seperti teringat sesuatu, senang) hah.. lebih baik… (melihat kanan-kiri) mumpung sepi.. lebih baik aku kabur. Tapi, sebagai setan yang bergengsi tinggi, aku tak akan melakukan kekonyalan ini. ah… tapi, hidup bersama seorang istri, itu lebih konyol….<br />
(mengambil ancang-ancang) kabur… kabur ah…<br />
(keluar panggung, sambil menyembunyikan wajah dibalik kursi yang dipakai sebagai kamuflase)</p>
<p><strong>Bagian 2</strong></p>
<p>1.    Ladang seorang Gianmatteo</p>
<p>Panggung     : Seperti semula<br />
Musik            : Ceria. Diringi suara-suara burung<br />
Lampu           : Terang</p>
<p>Masuk Radamantus dan Minos. Terengah-engah.</p>
<p>1. Rhadamantus<br />
Apakah kita sudah jauh dari neraka itu sobat?</p>
<p>2. Minos<br />
Aku kira begitu</p>
<p>3. Rhadamantus<br />
Aku capek sekali, kita istirahat dulu.</p>
<p>4. Minos<br />
Nanti saja, kita jalan lagi. Aku rasa kita belum aman.</p>
<p>5. Rhadamantus<br />
Ah… lihat sawah ini. Mana mungkin kita ditemukan ditempat kacau seperti ini.  (duduk dipanggung)</p>
<p>6. Minos<br />
Hei.. bangun, lihat! Ada yang datang. Sepertinya dia pemilik tanah ini. Ayo.. kita sembunyi. Kalau tidak kita bisa mendapat masalah baru. (kemudian berlari kebelakang peti, sembunyi)</p>
<p>Masuk Gianmatteo, membawa arit dan seember jerami kering. Duduk diatas peti sambil mengipas-ngipaskan topinya ke tubuhnya. Sesekali terlihat kelelahan.</p>
<p>7. Gianmatteo<br />
Ah… panas sekali hari ini. (mengipas dengan topinya)<br />
Oh, bagaimana aku bisa kaya? Lahan sempit, tanah kurang subur, panen dalam setahun hanya sekali. Belum harga pupuk dan bibit terus ditekan oleh para penguasa swasta. Sehingga mau tidak mau aku terpaksa berhutang pada tengkulak. Hah… pengennya sih ada retribusi dan pembagian tanah oleh negara, yah… semacam landreformlah..<br />
Tapi kalau begini… 20 tahun lagi begini…tidk pasti. Malah, lahanku yang sepetak ini bisa-bisa di lego ketengkulak. Mau kekota, paling-paling aku Cuma jadi buruh pabrik murahan. Apalagi yang aku bisa, selain memegang sabit dan palu. Ah.. mau jadi artis tampang tidak ada. Jadi politisi, kemampuan tidak punya. Jadi pencopet dan pencuri, wah, aku tidak bernyali. Ya sudahlah.. sudah nasib. Ya harus kuterima dengan iklas</p>
<p>8. Belfagor<br />
(masuk dengan nafas terengah-engah) tolonglah saudaraku, aku sedang dikejar-kejar. Sembunyikan aku. Nanti kau kuberi imbalan.</p>
<p>9. Gianmatteo<br />
(merasa Iba) Orang asing, siapapun kau, kemari. Tapi kau harus ingat dengan kata-katamu.<br />
(kemudian Belfagor dinaikkan diatas peti. Bergaya seperti orang-orangan sawah)</p>
<p>Muncul kreditur dan Honesta. Mencari Belfagor.</p>
<p>10. Honesta<br />
Permisi. Apakah kau melihat suamiku lewat disini?<br />
(gianmatteo pura-pura tidak tahu dan menggeleng)</p>
<p>11. Gianmatteo<br />
Suamimu? Mana aku kenal. Bukan urusanku dimana bajingan itu berada.</p>
<p>12. Kreditur I<br />
Sepertiny, aku pernah melihat patung ini.. karya siapa ya? Michaelangelo, Donatello. Rafael, ah.. si Leonardo?</p>
<p>13. Kreditue II<br />
Bukan, ini seperti…</p>
<p>14. Gianmatteo<br />
Salah… ini orang-orangan sawah tuan-tuan</p>
<p>15. Honesta<br />
Tapi… seperti…</p>
<p>16. Kreditur I<br />
(curiga memandangi. Sementara honesta dan kreditur II melihat pada orang-orangan sawah) baiklah, ini. hubungi aku bila melihat orang ini. (menyodorkan sebuah poster dan kartu nama)<br />
ayo Honesta. Sekarang harta milik kalian disita.</p>
<p>17. Kreditur II<br />
Kau juga disita… (memegangi Honesta. Honesta menangis. Kemudian mereka keluar panggung)</p>
<p>18. Belfagor<br />
Terima kasih saudaraku, sekarang bisakah kau turunkan aku dari sini? (gian matteo menurunkan) hup..(turun dari peti). Oke. Aku berhutang padamu</p>
<p>19. Gianmatteo<br />
Iya. Itu benar. Tapi, sekarang coba kau ceritakan siapa sebenarnya kau ini, dan bagaimana bisa kau jadi seperti sekarang ini. karena aku tidak mau dikutuk oleh orang banyak karena telah menyelamatkan seorang koruptor…</p>
<p>20. Belfagor<br />
Ceritanya panjang… nah begini cerintanya…<br />
(lalu Belfagor bercerita). Jadi jelasnya, aku bukan koruptor tulen.</p>
<p>21. Gianmatteo<br />
Bisakkah kau ku percaya? Ah… tapi kau kan….</p>
<p>22. Belfagor<br />
Benar.. aku setan. Tapi bukan setan gadungan. Nanti bila kau mendengar berita, ada seorang wanita yang kesurupan setan, datanglah kesanan dan pura-puralah menjadi dukun. Karena sesungguhnya akulah yang merasukinya…</p>
<p>23. Gianmatteo<br />
Tapi bagaimana aku tahu itu kau? Dan caranya…</p>
<p>24. Belfagor<br />
Karena aku hanya akan keluar bila kau yang datang kesana dan mengobatinya. Tapi, tentunya kau harus pura-pura komat-kamit. Akting kawan, akting…</p>
<p>25. Gianmatteo<br />
Kau yakin? Ingat ya. Kau punya hutang padaku. Dan kau harus membayarnya..</p>
<p>26. Belfagor<br />
Tenang saja. Bila setan sudah berjanji, kau tak perlucuriga lagi. Setelah hari itu kita tak akan pernah bertemu lagi. Dan kau harus menghindari bertemu denganku. Karena setelah itu, aku takkan pernah baik lagi kepadamu.</p>
<p>27. Gianmatteo<br />
Baiklah. Sebagai setan yang bertanggung jawab. Ku harap kau tak berdusta..(menjabat tangan Belfagor)</p>
<p>28. Belfagor (tertawa sadis). Belfagor tak akan pernah membuat kecurangan.<br />
Okelah.. sampai ketemu<br />
(melangkah keluar panggung)</p>
<p>29. Gianmatteo<br />
(tersenyum yakin). Aku tunggu kabar darimu<br />
(kemudian merapikan alat-alat dan pergi keluar panggung)</p>
<p>Muncul dari balik peti, Minos dan Radamantus</p>
<p>30. Minos<br />
Kau dengar pembicaraan mereka?</p>
<p>31. Rhadamantus<br />
Ya, aku dengar</p>
<p>32. Minos<br />
Bagaimana pendapatmu?</p>
<p>33. Rhadamantus<br />
No comment. Aku tidak mau terlibat urusan konyol ini lagi. Biarkan saja, Belfagor sedang merencanakan sesuatu.</p>
<p>34. Minos<br />
Ya, kelihatanya, dia mau memamerkan kebolehanya</p>
<p>35. Rhadamantus<br />
Sekarangf kau mau kemana?</p>
<p>36. Minos<br />
Ikut kau, kita masih punya waktu untuk tinggal di bumi</p>
<p>37. Rhadamantus<br />
Iya, itu benar. Tapi sekarang sebaiknya kita berpisah disini.</p>
<p>38. Minos<br />
Kenapa?</p>
<p>39. Rhadamantus<br />
Karena aku berubah pikiran, sekarang aku merasa lebih baik liburan semdirian. Tanpa kau, setan banci.</p>
<p>40. Minos<br />
Aku tidak mau berpisah.. kita harus saling mengawasi.</p>
<p>41. Rhadamantus<br />
Kau maih berani melawanku?</p>
<p>42. Minos<br />
Iya.. iya… aku ikuti permintaan mu</p>
<p>43. Rhadamantus<br />
Bagus. Sekarang, kau harus membalaskan dendam kita pada wanita kejam itu.</p>
<p>44. Minos<br />
Honesta? Tapi aku…(kemudian takut oleh tatapan Rhadamantus). Kau curang Rhadamantus</p>
<p>45. Rhadamantus<br />
Siapa suruh kau menjadi setan lemah. Ya sudah… selamat tinggal. Aku mau liburan dulu. Jangan pulang ke neraka lebih dulu. Karena kita akan pulang bersama-sama. Ingat… balas Honesta. Oke?</p>
<p>Kemudian mereka berpisah dipinti berlawanan</p>
<p><strong>2. Istana Louis VII</strong></p>
<p>Panggung            : Seperti semula.<br />
Lampu                  : Terang<br />
Musik                : Musik klasik</p>
<p>Muncul Rhadamantus dalam sosok setan</p>
<p>46. Rhadamantus<br />
Sebentar lagi, petualangan ini akan berakhir. Saya memantau terus sipetani itu. Yeah.. Belfagor, ternyata kau memiliki permainan yang sempurna. Kau jebak Gianmatteo dalam perangkapmu. Untuk yang pertama, kau merasuki seorang putri bangsawan, dan Gianmatteo berhasil melaksanakan tugasnya, dan menjadi ternama. Sekarang, tak ada lagi si petani miskin. Yang ada adalah dukun sakti dari Peretola. Hahaha… dasar setan… aku sudah tahu akhir cerita ini. Pada akhirnya, gianmatteo akan gagal dalam misinya kali ini. Hahaha… dasar setan. Inilah yang akan kau terima wahai manusia. Kau pikir gampang menjinakkan kami?<br />
Dasar syet…. (muncul minos dari side kiri)</p>
<p>47. Minos<br />
Alamak dia lagi… (memutar badanya)</p>
<p>48. Rhadamantus<br />
Hei… Minos… (minos berhenti dan menghadap Rhadamantus). Apa yang kau lakukan disini?</p>
<p>49. Minos<br />
Sttt…. Diam, Belfagor disini.</p>
<p>50. Rhadamantus<br />
Iya, aku tahu, karena itulah aku disini. Dan kau. Bagaimana perintah yang kuberikan beberapa tahun lalu? Apakah sudah kau laksanakan?</p>
<p>51. Minos<br />
Pelan-pelan bicaranya, perintahmu, sudah aku laksanakan. Sekarang iblis betina itu sudah membusuk dineraka.</p>
<p>52. Rhadamantus<br />
Hahaha… bagus… sekarang enyahlah kau dari sini…</p>
<p>53. Minos<br />
Baiklah aku akan enyah dari hadapanmu segera… (berlari menuju pintu keluar. Namun dari pintu yang sama masuk raja memapah putrinya, yang membelakangi posisi dengan Belfagor. Diiringi seorang pengawal)</p>
<p>54. Raja<br />
Sudah datangkah  dukun sakti dari Peretola? (sambil berusaha menenangkan putrinya yang kesurupan Belfagor)</p>
<p>55. Pengawal I<br />
Beliau masih dalam perjalanan baginda.</p>
<p>56. Raja<br />
oh.. putriku, sabar ya. Kita coba lagi pada pengobatan alternatif ya sayang..</p>
<p>57. Pengawal II<br />
(masuk) lapor baginda, dukun sakti telah berada di gerbang.</p>
<p>58. Rhadamantus<br />
(berbisik pada Minos) hei, aku sudah tak sabar melihat tampang sitolol itu. hehehe.</p>
<p>59. Minos<br />
sttt.  Sebaiknya kita menyingkir saja. Karena sepertinya bel fagor mulai menyadari kehadiran kita.</p>
<p>60. Rhadamntus<br />
kau benar. Ayo, kemari, ikut aku (kemudian mereka berjalan kearah side kiri)</p>
<p>61. Raja<br />
Suruh masuk ke balerung. Putriku disini menantikan tangan mukjizatnya.<br />
(Masuk  gianmateo).<br />
Aku mendengar tentangmu. Dan mantra-mantra saktimu. Putriku sedang sekarat. Semua dukun sakti seantero  jagad ini sudah mencoba menyembuhkannya. Nah sekarang coba kau periksa dia, dan tolong sembuhkan dia dari kegilaanya yang memusingkan kepalaku selama ini.<br />
(gian matteo mulai memeriksa, namun ketika mulai memeriksa…)</p>
<p>62. Belfagor/Putri<br />
(bersamaan dan serentak) Ah… penghianat murahan. Kau datang  tanpa izinku dan mencoba menggangguku. Tidak cukupkah kekayaan yang telah kuberikan padamu? Baiklah, (bergerak, menari nari diatas panggung), akan kubuktikan pada setiap orang, bahwa aku, belfagor, iblis paling sadis, bisa membuat kaya siapapun dan mengambilnya kembali kalau aku mau.<br />
(tertawa nyaring, bersamaan)</p>
<p>63. Gianmatteo<br />
(takut, dan mulai mencari akal). Baginda, dulu hamba mampu mengusir setan. Segala setan. Setan gunung, setan rumah, setan banci, setan tuyul setan anak, setan kredit, setan…..<br />
(diam sejenak, kemudian) tapi kelihatannya…</p>
<p>65. Raja<br />
(kaget). Putriku kesetanan?. Ya ampun…Setan apa yang merasukinya?</p>
<p>65. Gianmatteo<br />
(pura-pura memeriksa dan kaget). Gawat yang mulia. Kelihatanya semua setan telah berkumpul disini. Semua kerabat, semua moyangnya juga!</p>
<p>66. Rhadamantus<br />
(teriak) alasan… dasar dukun gadungan…(terlalu bersemangat, sehingga Minos mengamankannya)</p>
<p>67. Raja<br />
Apa setan arisan? Ayo tolong dia. Bubarkan pesta setan itu. dan kau selamatkan putriku dari setan-setan itu.. (mulai ketakutan)</p>
<p>68. Gianmatteo<br />
(hampir putus asa). Hamba tidak bisa yang mulia. Mantra hamba tidak sanggup mengusir mereka semua.</p>
<p>69. Raja<br />
Kau!!! Awas kalau tidak bisa!! Kugantung kau!!! (murka)</p>
<p>70. Rhadamantus<br />
(tertawa) aku sudah tahu akhirnya akan begini.</p>
<p>71. Gianmatteo<br />
(ketakutan). Ampun yang mulia. Hamba sedang mencoba. Sepertinya ada satu cara lain yang bisa membuat setan- setan ini keluar. Dan bila cara itu tak berhasil juga, silahkan anda menggantung saya</p>
<p>72. Raja<br />
Aku hargai itu anak muda. Bila kau sanggup membubarkan setan-setan itu, aku memberikanmu hadiah. Namun bila kau gagal.. aku tak mau berkompromi lagi…</p>
<p>Belfagor dan sang putri terus berputar-putar di panggung dan tertawa sendiri</p>
<p>73. Gianmatteo<br />
Saya paham yang mulia. Sekarang saya membutuhkan sebuah altar. Para undangan yang terdiri atas para bangsawan negeri ini. dan mereka harus memakai segala perhiasan. Pakaian dari sutra dan yang paling penting. Sediakan 20 orang pemusik lengkap dengan segala macam alat musiknya. (raja mencatat dalam sebuh kertas)</p>
<p>75. Raja<br />
Hm itu saja? Pengawal!! Bawa ini pada perdana menteri! (muncul pengawal mengambil kertas dan kembali keluar). Hah ini kasus serius yang harus menjadi pekerjaan semua elite.</p>
<p>76. Belfagor/Putri<br />
Hahahaha.  (sambil terus bergerak) Apa yang kau lakukan penghianat murahan? Kau pikir aku akan gemetar ketakutan menghadapi pameran seperti ini? tidakkah kau tahu, bahwa aku sudah terbiasa melihat gemerlapnya surga dan kacaunya neraka? Hey penghianat murahan, kau pikir kau bisa berbuat banyak dengan kerumunan orang seperti ini? hahah. Kau pikir kau bisa bebas dari cengkramanku dan murka raja. Hahaha. Aku mau melihat kau digantung….</p>
<p>77. Raja<br />
(Takut dan berlari kesamping Gianmatteo) Gianmatteo. Sekarang seluruh bangsawan sudah berkumpul….<br />
Seluruh pemain musik sudah siap. Cepat, cepat kau usir setan sial itu…Oh..<br />
Apa kau butuh partitur juga?</p>
<p>78. Gianmatteo<br />
Tidak yang mulia. Saya akan memakai topi saya sebagai aba-aba kepada pemain musik. Sekarang saya akan membacakan mantra<br />
(mulai komat-kamit. Dan berusaha membujuk belfagor. Mengelilingi ruangan) Belfagor iblis paling sadis, sudilah kau keluar dari tubuh wanita ini (kepada belfagor sambil berbisik kepada sang putri)</p>
<p>79. Belfagor<br />
Hahaha.. konyol… (tertawa) biar kau digantung…. Hahahah (menari-nari dan menggoda semua orang diatas panggung. Gianmatteo kehilangan akal, dan mengangklat topinya. Para pemusik bingung dan memainkan musik yang kacau)<br />
Hahaha… ku pikir aku kesakitan dengan musik rendahan itu? (terus menari)</p>
<p>80. Gianmatteo<br />
(menghampiri Belfagor) celaka Roderick,  istrimu…. Istri datang kemari. (belfagor kaget dan berhenti menari, dan keluar dari tubuh sang putri)</p>
<p>Sang putri jatuh lemas ke panggung, kemudian dipapah ke atas peti oleh raja dan pengawal.</p>
<p>81. Belfagor<br />
(ketakutan, mencari tempat sembunyi)  mati aku… istriku… tidak… jangan bilang aku ada disini…<br />
(terus ketakutan) istriku datang… oh… gianmatteo selamatkan aku. Dia datang… dia datang. Istriku… aku… gian matteo selamatkan aku. Please dech..</p>
<p>82. Rhadamantus<br />
Hei, Minos, bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah kau telah menghabisi Honesta?</p>
<p>83. Minos<br />
Maaf, bos. Aku, aku tidak berani membalasnya. Aku tidak pernah…</p>
<p>84. Rhadamantus<br />
Ah… dasar bodoh.. Awas kau!! (kemudian ikut-ikutan panik)</p>
<p>85. Gianmatteo<br />
Sekaranglah saatnya. Pergilah belfagor. Pergi , kembali ke neraka dan laporkan ini semua..</p>
<p>86. Rhadamantus<br />
Maaf kawan-kawan, aku lari duluan..(meninggalkan panggung)</p>
<p>87. Minos<br />
Rhadamantus saudaraku… (mengikuti Rhadamantus)</p>
<p>88. Belfagor<br />
Ah… terima kasih… nasibmu terselamatkan ketakutanku pada istriku. Aku akan keluar. Aku keluar gianmatteo bedebah kau….<br />
(Belfagor kini terlihat semua orang, dan semua jadi panik. Sang putri langsung sadar dan ikut-ikutan panik)<br />
Ah… benarlah kata mereka yang terkutuk di neraka. Bahkan iblis sekuat aku tak bisa bertahan hidup bersama seorang istri. Biarkan saja. Biarkan semua orang tahu, bahwa Belfagor, iblis yang paling sadis tak akan berhenti sampai disini. Demi penderitaan yang telah kulalui… wahai istri-istri.. akan kuajak suami-suami kalian berjalan bersamaku. Hingga suatu saat kalian mengerti, ketika kalian bangun dari tidur, kalian tak akan menemukan mereka. karena akulah Belfagor, setan yang mengalami penderitaan para suami yang harus mengurusi segala tetak bengek kalian…. Hahaha.. gianmatteo. Kau juga… sampai jumpa, sampai jumpa di neraka….<br />
(kemudian belfagor terbang namun terhenti….)</p>
<p>89. Gianmatteo<br />
(merasa menang) Benarlah, para suami masuk neraka. Tapi kau tidak akan pernah bisa mengerti.  Kau setan, dan katakan pada setan yang lain…</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/catatanhujan.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/catatanhujan.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatanhujan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatanhujan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatanhujan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatanhujan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatanhujan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatanhujan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatanhujan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatanhujan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatanhujan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatanhujan.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatanhujan.wordpress.com&blog=5690230&post=27&subd=catatanhujan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanhujan.wordpress.com/2008/07/08/%e2%80%9cketika-iblis-menikahi-seorang-perempuan%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2dd1c47fe640877c2a3bd28b2ca538af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kapasmerah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembakaran Buku, Gejala Terbentuknya  Negara Fasis (Gaya) Baru</title>
		<link>http://catatanhujan.wordpress.com/2007/11/08/pembakaran-buku-gejala-terbentuknya-negara-fasis-gaya-baru/</link>
		<comments>http://catatanhujan.wordpress.com/2007/11/08/pembakaran-buku-gejala-terbentuknya-negara-fasis-gaya-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Nov 2007 22:45:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kapasmerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapasmerah]]></category>
		<category><![CDATA[Surat dari Palmerah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanhujan.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Dimuat di Buletin Kapasmerah Edisi X-9, November 2007
PEMERINTAH kembali melakukan kejahatan terparah dalam sejarah peradaban manusia. Setelah sempat menghilang, aksi pembakaran buku kembali dilanjutkan. Pembakaran buku-buku sejarah yang tidak mencantumkan Partai Komunis Indonesia (PKI) di belakang peristiwa G30S kembali terjadi di Sleman. Tak kurang dari 8.993 buku sejarah yang mengacu pada kurikulum 2004 itu dimusnahkan Kejaksaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatanhujan.wordpress.com&blog=5690230&post=52&subd=catatanhujan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dimuat di Buletin Kapasmerah Edisi X-9, November 2007</p>
<p>PEMERINTAH kembali melakukan kejahatan terparah dalam sejarah peradaban manusia. Setelah sempat menghilang, aksi pembakaran buku kembali dilanjutkan. Pembakaran buku-buku sejarah yang tidak mencantumkan Partai Komunis Indonesia (PKI) di belakang peristiwa G30S kembali terjadi di Sleman. Tak kurang dari 8.993 buku sejarah yang mengacu pada kurikulum 2004 itu dimusnahkan Kejaksaan Negeri Sleman, Yogyakarta.<span id="more-52"></span></p>
<p>Buku-buku yang dimusnahkan itu antara lain; Kronik Sejarah Kelas 1 SMP dengan penerbit Yudhistira, Manusia Dalam Perkembangan Zaman penerbit Ganeca Exact, Sejarah 2 untuk SMP penerbit Erlangga, Sejarah 3 untuk SMP penerbit Erlangga, Sejarah Nasional 1 SMA penerbit Bumi Aksara, Sejarah Nasional dan Umum 1 SMA penerbit Balai Pustaka, serta buku-buku sejarah lain yang mengacu pada kurikulum 2004.</p>
<p>Pengumpulan buku-buku itu dilakukan sejak tiga bulan lalu oleh Kejakasan Negeri Sleman bekerjasama dengan Dinas Pendidikan. Buku-buku tersebut ditarik dari sekolah dan toko buku di Kabupaten Sleman.<br />
Pemusnahan barang cetakan berupa buku teks pelajaran sejarah SMP/MTs dan SMA/MA/SMK yang mengacu pada `kurikulum 2004` dilakukan dengan cara dibakar dan dirobek kecil-kecil sehingga tidak bisa dibaca dan tidak bisa dipergunakan lagi.</p>
<p>Tragedi serupa juga terjadi pada 20 Juli lalu, dimana Kejaksaan Negeri Depok membakar 1.247 buku sejarah, bahan pelajaran sekolah menengah pertama dan atas. aksi primitif itu juga  merembt ke sejumlah wilayah, seperti di Bogor, Indramayu, Kendari, Kuningan, Kupang, Pontianak, Purwakarta dan kota-kota lain di Indonesia.</p>
<p>Masih dengan alasan yang sama, pemerintah tetap mengatakan bahwa buku-buku tersebut dinilai telah memutar balikkan fakta. Kantor Berita Antara melansir, menurut Kepala seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Sleman, Bambang Surya menyontohkan, dalam kasus pemberontakan Madiun 1948 tidak dituliskan bahwa pemberontakan itu dilakukan oleh PKI. Contoh lain yang jelas, papar Bambang, dalam buku sejarah tersebut juga dituliskan sejarah kelam G 30 S tanpa ada embel-embel PKI-nya.</p>
<p>Awal petaka bagi nasib sejumlah buku sejarah yang disita itu berasal dari Surat Keputusan Kejaksaan Agung Nomor 019/A-JA/10/ 2007 tanggal 5 Maret 2007 tentang pelarangan buku sejarah tahun 2004 dan Surat Perintah Kejaksaan Agung Nomor Ins. 003/A-JA/03/ 2007 tentang instruksi penarikan buku sejarah kurikulum 2004 dari wilayah Indonesia. Padahal buku sejarah itu ditulis dan diterbitkan oleh sejarawan dan perusahaan yang jelas dan bertanggung jawab. Buku-buku itu juga disusun berdasarkan kurikulum 2004, dimana pemerintah ikut bertanggung jawab karena dalam kurikulum tidak mengatakan harus menyebut G30S/PKI.</p>
<p>SK Kejakgung ini kemudian dieksekusi oleh kantor-kantor kejaksaan negeri (Kejari) di sejumlah kota. Kejaksaan Negeri Kota Depok misalnya telah memusnahkan 1.247 buku sejarah kurikulum 2004 hasil penyitaan dari lima SMP dan tiga SMA di wilayah Depok. Demostrasi pemusnahan buku sejarah itu dilakukan oleh Kepala Kejaksaan Negeri Depok Bambang Bachtiar, Walikota Depok Nurmahmudi Ismail, dan Kepala Dinas Pendidikan Depok Asep Roswanda dengan cara dibakar.</p>
<p>Penyitaaan dan pembakaran buku-buku pendidikan yang lebih bisa dipandang sebagai pesanan penguasa itu merupakan bentuk penjahiliahan struktural yang nyata. Tindakan itu tentunya bertentangan dengan hak-hak dasar warga negara untuk bebas menyatakan pikiran dan pendapat (secara lisan/tulisan) , juga kebebasan memperoleh, memiliki, dan mengolah informasi seperti yang telah dijamin UUD 1945.</p>
<p>Perbuatan bodoh ini sekaligus pula telah meneror dunia akademisi untuk mengeluarkan pendapat yang telah dijamin konstitusi. Terlepas apakah sejarah yang tertulis itu masih diselimuti kontroversi, namun pembakaran buku tetap tak bisa dibenarkan.</p>
<p>Kebijakan pemerintah yang terkesan mengada-ada itu pantas mendapat perlawan dari segenap warga negara. Bagaimana tidak, pembakaran buku yang berasal dari ide dan pengetahuan adalah bentuk pemberangusan hak untuk mendapat informasi sekaligus. Tentulah kita tak hendak merasakan situasi kekejaman yang dilakukan rejim Adolf Hitler, Musolini maupun komunis Peking yang dengan terang-terangan melanggar hak warga negara untuk mendapat informasi dan melanggar hak untuk memperoleh pendidikan secara demokratais dan manusiawi.</p>
<p>Untuk itu, secara keras Kapasmerah menentang penyitaan dan pembakaran terhadap buku-buku yang dituduh telah memanipulasi sejarah tersebut. Serta mengajak kepada sidang pembaca untuk merenungi upaya pembodohan yang tengah dipraktekkan pemerintah terhadap warga. Bagaimana dengan Anda?<br />
(*T. Arif, Mahasiswa Fisip UBK 2002)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/catatanhujan.wordpress.com/52/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/catatanhujan.wordpress.com/52/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatanhujan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatanhujan.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatanhujan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatanhujan.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatanhujan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatanhujan.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatanhujan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatanhujan.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatanhujan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatanhujan.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatanhujan.wordpress.com&blog=5690230&post=52&subd=catatanhujan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanhujan.wordpress.com/2007/11/08/pembakaran-buku-gejala-terbentuknya-negara-fasis-gaya-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2dd1c47fe640877c2a3bd28b2ca538af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kapasmerah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>