Oleh: kapasmerah | Desember 8, 2008

The Real War Episode

Akhirnya hari itu tiba juga, hari dimana malapetaka bagi seluruh unggas di Jakarta. Walaupun belum sepenuhnya operasi itu berhasil menyentuh sudut kota, tapi goncangan yang diterima beberapa wilayah di ibukota itu terasa hebat juga.

Kejadian luar biasa ini memang telah menyirep perhatian seluruh rakyat Indonesia, dari Medan Sampai Merauke. Di Jakarta, khusunya, sebagai wilayah terbesar penyebaran endemic nomor wahid di Indonesia.Rumah sakit Sulianti Suroso kebagian orderan penanganan virus mematikan ini. Lantas bak monyet kebakaran janggut, media lalu berlomba menyoroti kasus flu burung. Membuat profil si pasien yang tewas, memajang fotonya di halaman depan dan membuat inzert peta rumah si korban. Pokoknya sampai sedetil mungkinlah, agar beritanya menarik dan oplahnya naik.

Dalam sehari rumah orang sakit dibanjiri oleh pewarta yang haus berita.

Pada 22 Februari lalu, resmilah ultimatum orang nomor satu se DKI itu terhadap terror flu burung. Dengan ancaman yang tentunya bukan main-main, Bang Yos-demikian media menyebutnya- akan mengusir bagi siapa saja yang tak mau dan rela menyerahkan unggas peliharaannya kepada tim kesehatan hewan yang akan memeriksa. Semua jenis unggas tentunya, ya, ayam, ya itik, ya angsa, ya dan burung. Tapi bukan ‘burung’ yang itu kok. :p

Walhasil dari proyek perang terhadap flu burung di 55 Kelurahan di Jakarta itu, dana yang digelontorkan untuk mengganti rugi unggas peliharaan yang dimusnahkan memakan biaya yang gila banyaknya… cukup membangun rumah untuk para gembel di ibukota, membangun rumah produksi bagi para penganggur, membuat sekolah rakyat… (bujruk, 600 miliar cing!). dan bagi yang unggasnya dimusnahkan diganti dengan Rp 10 ribu perak. Luar biasa… ini baru Kejadian Luar Biasa.

Lantas bagaimana masyarakat yang menilai kebijakan bang Yos itu? Walah dalah, nda tau saya. Macam-macam saja yang dilontarkan mereka, pemelihara unggas yang ternyata, di dominasi oleh orang “have not” alias miskin. Ya bilang kelewatanlah, pakai usir-usiran segala. Ya bilang pasrahlah walaupun cuma diganti sepuluh ribu perak. Halah, ntahlah.

Tapi yang jelas untuk urusan usir-usiran begini, Bu Nursjahbani Katjasungkana anggota komisi III DPR tidak sepakat. Nah, menurut orang yang getol ngomongin Hak Azaasi Manusia ini, pengusiran itu tidak bijaksana karena tanpa negosiasi dulu. Ibu dari F-PKB ini juga bilang, kalau dia curiga dengan virus flu burung yang lebih bia dianggap sebagai suatu masalah yang dibesar-besarkan saja. (sumber:KCM)

Waduh, kalau sudah begini, bagaimana dong Bang Yos? Njilimet banget ya untuk urusan satu ini. (Saya mulai curiga, kalau urusan flu burung aja orang pada pusing, apalagi urusin NKRI ini). Padahal itu yang namanya fenyakit flu furung tidak fisa komfromi dan negofiafi. Dan sementara Hak Azasi juga butuh dijunjung tinggi.

Tapi menurut saya, ini soal burung, eh maaf. Soal flu burungnya. Halah. Flunya burung maksud saya. Kok nda bisa diberesin dengan aman dan tidak menyakitkan orang lain? Apa memang begitu skema kerjanya? Dimana selalu ada yang berkorban dan yang dikorbankan untuk kepetingan seluruh umat? Apa tidak ada cara lain?

Alkisah di sebuah tempat di pelosok Jakarta yang miniatur sebuah mall ini, seorang anak memelihara seekor burung. Bagi semua orang burung itu memang tak ada harganya, (tapi bagi Bang Yos tentu ada. Rp 10 Ribu harganya). Anak itu sangat cinta pada burungnya itu. No body knows perihal hubungan si anak dengan burungnya.

Pada suatu hari burungnya diminta oleh petugas yang didatangkan khusus untuk membersihkan Jakarta dari penyakit bernama H5N1. Si anak ini miskin. Ketika disodori uang gobanan dia mau menerima. Tapi untuk melepaskan burungnya dia tidak mau. Lha? Terang saja, burungnya itu, maksud saya burungnya itu adalah satu-satunya teman yang dapat membuat dia bahagia. Membuat dia lupa pada kenyataan bahwa dia itu miskin dan ngga mau ngerti duit gobanan. Yang ada di kepalanya Cuma burungku sayang.

Tapi ketika dia akhirnya diminta menyerahkan sang burung yang konon kabarnya terinfeksi avian Influenza, dia bingung. Dengan sopan dia tolak uang goban itu. Tapi tidak semudah itu ternyata. Kesulitan si anak justru baru dimulai. Dan mulut api petaka sudah menunggu si burung di luar sana. Si anak pun kehilangan burung kesayangannya. Dia stress dan akhirnya… akhirnya lahirlah ketakutan-ketakutan saya…
Bisa jadi si anak bunuh diri karena tak sanggup menahan sedih.
Bisa jadi si anak menjadi penjahat karena kehilangan kasih sayang sang burung.
Bisa jadi si anak mendatangi rumah Bang Yos dan mencuri seekor burung dari halaman Bang Yos.
Bisa jadi si anak jadi bego dan malas menghadapi masa depannya.
Bisa jadi.. bisa-bisa saya sajalah, untuk mengatakan, bahwa “final solution” atas unggas itu bukan jalan tengah.

Lha? Lalu jalan tengah itu apa dan mana? Iya, iya saya sedang bertanya. Ini pertanyaan saya. Pertanyaan yang terus ada di pikiran kita yang mau serius mengkulik-kulik fenomena alam ini tanpa ada tedeng aling-aling dan keingintahuan yang sarat kepentingan.

Sampai hari ini, perang terhadap flu burung yang berarti perang terhadap burung itu masih terus dikorbankan. Entah berapa nyawa manusia lagi yang melayang. Dan entah berapa nyawa unggas pula yang akan melayang.

Yah, kita tunggu sajalah, sampai ada yang menawarkan jalan tengah.

Djenar_saja

(penikmat ayam goreng ala centucky)
Beberapa titik yang diidentifikasi sebagai pusat penyebaran varian virus Avian Influenza itu disapu bersih oleh tim khusus yang didatangngkan Gubernur Sutiyoso dengan budget yang tentunya tidak murah. Tapi tidak lebih mahal dari ganti rugi yang diberikan Pemprov kepada si Otong yang harus kehilanga perkututnya yang telah dirawat Otong selama dua tahun.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori