dear
Sudah lama tak bersapa. Maaf. seperti biasa, setiap kali aku memulai kata membuka pembicaraan padamu, tak ada lain kata selain maaf. maaf, maaf…
apa kabar? semoga sehat yah. gimana kabar kawan-kawan kita?
aku rindu berkumpul dan bersua lagi seperti masa-masa lalu. mendengar analogi-analog- dan metafor dari guru kita, menunjukkan sikap kaku ketika bertemu dengan teman yang tak dikenal. mencoba bersikap sopan pada semua orang. aku rindu, sama ketika masih duduk SMA dulu. berdiskusi, bercanda.sekarang aku tengah sendirian, kesepian di dalam kegelisahan.
tak ada yang sudi dekat denganku. aku pikir kau mau menjadi temanku, mendengarkan keluh kesahku, berdiskusi, bercanda.
ini sebuah kongklusi:
aku pikir lama-lama ngga ada guna aku hidup sampai tua. akhir-akhir ini aku sering berpikir untuk segera menyelesaikan hidup ini. aku mau istirahat, yang panjang. panjang sekali. aku capek menulis, lelah menulis enggan berkisah dan malu meneruskan sisa usia.
…Aku ingin liburan yang panjang
Berhari-hari menghabiskan kesunyian
Sendiri sambil membaui hujan
Berdiam diri dalam kediaman abadi di bawah pohon rindang
Menghitung jarak ke bulan
Memunguti taburan mimpi yang berceceran dari atap genteng rumahku
Sambil membetulkan letak bingkai foto ibu di dinding
Aku pikir liburan ini harus sepi dari politik dan puisi
Aku cuma mau menghabisi segelas kopi
Sambil memainkan jariku di bibirmu
Menghitung taburan air hujan yang menempel di jendela
Diskusi tentang anak-anak dan sekolah mereka
Tentang padi-padi yang belum bisa dituai
Ini adalah liburan yang paling aku idamkan
Sementara kau membawakan aku sebuah novel,
Aku pun berlalu menghadap hujan
Hidup adalah kedamaian abadi
yang terbaring sendiri di bawah pohon rindang sambil menunggui musim penghujan datang
Dan aku pasti kembali padamu untuk mendengarkan cerita dari novel-novel pilihanmu
Dan meneruskan mimpi libur panjang…
pernah sekali waktu, aku berpikir untuk pergi ke pantai. main ombak dan membangun istana pasir. kemudian menghancurkannya dengan sekali injakan. kau tahu? aku sudah terlalu banyak membuat kesalahan dalam hidup. aku bisa mendapat 100 teman dalam waktu satu jam, dan kehilangan mereka hanya dalam waktu lima menit.
aku orang yang bodoh bukan? membiarkanmu menjadi takut setiap kali menerima telpon dariku.
setelah aku pikir juga, aku mau terbang saja. seperti selembar bulu angsa. ke sana- ke mari, tak ada orang yang sanggup mengerti. aku hanya ikut apa kata angin, kadang menari, kadang mendarat di atas pohon oak, kadang menempel di rambutmu. kadang…
wajar kalau kau marah. atau enggan setiap kali sesuatu hal selalu berkaitan denganku.
aku lelah, aku mau pulang saja. bisakah kau tunjukkan aku jalan pulang? aku rindu sama kampung halamanku, pada ayam dan itik ternak milik bapaku. berguling-guling di atas rumput dan memetik bunga dari taman gantung punya mama ku.
kapan dunia ini berhenti berputar?. aku sudah semakin pusing mengedar diantara rotasinya yang semakin cepat. nafasku semakin sesak dan insomnia keparat ini membuatku semakin terlihat seperti mayat hidup. (sekarang jam 10.25 pagi! dan sejak kemarin pagi aku belum memicingkan mata!!)
aku mau istirahat. tapi tak bisa.tau kah kau aku menderita? semuanya berterbangan melayang-layang di atas kepalaku. semua hal. tak ada yang tidak kupikirkan. semuanya…
kadang-kadang aku terlalu banyak berpikir. sehingga aku merasa seperti seekor kambing yang akan disembelih pada pagi hari Idul adha. otakku bekerja terus. sepanjang tahun.
dan sekarang aku lelah. aku mau membaringkan kepalaku dan bercerita tentang semua hal yang pernah aku lihat. sayang, aku tak puya tempat sandaran. tak ada yang mau mendengarkan susahku. sebab semua orang sedang susah sekarang. aku benci menjadi mahluk yang memiliki keterbatasan!! aku benci menjadi mahluk lemah yang suka mengeluh…! damned!
…Aku telah menunggu cukup lama.
Sebuah pesawat datang dan menurunkan orang-orang.
Terus, sepanjang peradaban
Aku telah menunggu
Cukup lama
Di sebuah bandara kehidupan agaknya.
Orang naik, orang turun
Dan aku terus menunggu pesawatku.
Sendiri saja…
mel, dapatkah kau menjadi teman?. seperti awal-awal pertemuan kita?. angap saja aku tak pernah melakukan kesalahan ini semua. aku terlalu lancang ketika itu. aku khilaf. kejujuranku telah membuatmu takut dan aneh memandangku. tak apalah. terserah kau saja.
bisakah, kita memulai persahabatan ini kembali, seperti ketika aku tidak pernah mengutarakan isi hatiku padamu beberapa waktu lalu?
sekarang aku sudah kehilangan banyak kawan. aku tak mau kehilangan kawan yang lain. aku takut mati sendiri. tak ada yang mengkafani, menyolatkan dan menguburkan.
tapi walaupun kejadian demikian adanya. aku ditakdirkan untuk menjadi penyendiri yang terasing dari peradaban manusia. aku siap.
…Hidup adalah kedamaian abadi
yang terbaring sendiri di bawah pohon rindang sambil menunggui musim penghujan datang…
tabik
Hujan
wah akhir yang tragis, sepi, sendiri,..
ada yang pada kahir cerita ini tentang Nietsche yang merindukan lou salomo yang tak ingin sendiri ketika akhirnya nietsche pun mengakui keberadaan tuhan…
oh hujan yang datang pada terik matahari
yang membasuh semua luka menyeri
maka kau sapu segala rindu yang menyepi…
Oleh: naz on Januari 8, 2009
at 4:49 pm